BENGKULU — Batik besurek bukan sekadar lembaran kain bermotif tulisan; ia merupakan perpaduan antara tradisi Melayu Bengkulu, pengaruh Islam, kekayaan flora-fauna lokal, serta keterampilan tangan yang diwariskan lintas generasi. Para perajin batik besurek menjadi penjaga identitas budaya daerah di tengah perubahan selera pasar. Karena itu, mencari pengrajin batik besurek tidak hanya berarti menemukan tempat membeli kain, tetapi juga mengenali proses kreatif di balik sebuah wastra khas.
Batik besurek mudah dikenali dari ornamen menyerupai kaligrafi Arab yang dipadukan dengan motif khas Bengkulu, seperti bunga Rafflesia, relung paku, burung kuau, dan berbagai tumbuhan. Pemerintah melalui Data Kebudayaan Kemendikbud telah mencatat Kain Besurek sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dalam domain kemahiran dan kerajinan tradisional.
Kata "besurek" berasal dari dialek Melayu Bengkulu yang bermakna "bersurat". Ciri visualnya berupa motif menyerupai tulisan atau kaligrafi Arab. Seiring perkembangan, motif tersebut berpadu dengan unsur alam Bengkulu sehingga menghasilkan karakter visual yang tidak ditemukan pada batik daerah lain. Sejumlah sumber kebudayaan menyebut adanya pengaruh dari pedagang Arab dan pekerja India pada perkembangan awal kain besurek di Bengkulu.
Interaksi antara pengaruh asing dan budaya lokal menghasilkan ragam motif yang kini menjadi identitas masyarakat Bengkulu. Ciri utama Batik Besurek antara lain:
Perkembangan ini membuat Batik Besurek tidak hanya untuk kepentingan adat, tetapi juga telah dimanfaatkan menjadi busana, mukena, sarung, jilbab, hingga produk kebutuhan sehari-hari.
Bengkulu memiliki sejumlah pelaku usaha yang mengembangkan besurek dengan pendekatan berbeda. Ada yang mempertahankan karakter tradisional, ada pula yang mengolah motif menjadi busana kontemporer. Salah satu cara mengenali pengrajin adalah dengan melihat rekam produk, teknik pembuatan, konsistensi motif, serta keterlibatan dalam pelestarian budaya.
Atiq Batik merupakan salah satu pelaku usaha yang tercatat dalam platform Karya Kreatif Indonesia. Usaha yang berdiri sejak 1999 ini berfokus pada pelestarian wastra khas Bengkulu, termasuk Batik Besurek dan produk pakaian jadi.
Produk yang ditawarkan antara lain kain besurek bermotif Rafflesia dan kaligrafi, tunik, hingga gamis. Beberapa kain menggunakan bahan sutra dengan teknik batik tulis. Atiq Batik juga memberdayakan perempuan di lingkungan sekitar dalam proses produksinya. Kegiatan pameran di dalam dan luar negeri menunjukkan bahwa produk besurek dari pengrajin ini mampu menembus pasar yang lebih luas.
Oase Gallery merupakan pelaku UMKM Bengkulu yang dikenal dengan produk besurek siap pakai. Produknya mencakup tunik, outer, blazer, kaftan, dan kemeja dengan kombinasi motif Rafflesia, kaligrafi, relung paku, serta unsur rumah adat. Galeri ini beralamat di Jalan Raflesia Raya RK No. 2, Kelurahan Nusa Indah, Kota Bengkulu.
Oase Gallery menunjukkan bahwa besurek memiliki peluang pasar internasional. Pada 2026, ANTARA melaporkan produk Batik Besurek dari Oase Gallery telah dipasarkan ke Malaysia dan Singapura.
Swarnabumei berdiri sejak 2017 dan menawarkan pendekatan berbeda dalam pengembangan kain besurek. Galeri ini memproduksi kain serta pakaian dengan karakter besurek yang beragam, termasuk Kain Cap Besurek Azura berbahan katun berukuran 115 x 210 cm. Produk tersebut dibuat dengan teknik cap dan memadukan motif besurek dengan Rafflesia.
Selain kain, Swarnabumei juga menjual pakaian pria dan wanita, kerudung, tas, serta dekorasi rumah. Kini, RRI melaporkan Swarnabumei mengembangkan variasi motif melalui galeri dan workshop di Jalan Ratu Agung, Kota Bengkulu, untuk memperluas pilihan motif sambil mempertahankan karakter besurek.
Motif membuat setiap kain besurek memiliki cerita. Referensi dari Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya mencatat sejumlah motif dasar besurek, antara lain kaligrafi Arab, rembulan-kaligrafi, melati-kaligrafi, burung kuau-kaligrafi, pohon hayat-burung kuau-kaligrafi, serta kombinasi relung paku dan burung punai.
Motif kaligrafi merupakan ciri yang paling mudah dikenali dari besurek. Namun bentuk kaligrafis ini tidak dapat disamakan dengan teks Arab yang memiliki makna tertentu. Beberapa pelaku UMKM menjelaskan bahwa ornamen tersebut merupakan bentuk kaligrafis yang tidak memiliki arti literal.
Bunga Rafflesia menjadi simbol kuat karena berkaitan langsung dengan identitas Bengkulu. Penggabungan kaligrafi dan Rafflesia menciptakan pertemuan antara pengaruh budaya Islam dengan simbol alam daerah. Kombinasi ini banyak digunakan oleh pengrajin kontemporer untuk menghasilkan kain yang tetap dikenali sebagai besurek namun lebih dekat dengan kebutuhan mode modern.
Relung paku merupakan motif flora yang telah lama hadir dalam ragam besurek. Selain itu ada pula bunga melati, cempaka, dan berbagai unsur tumbuhan. Kehadiran flora lokal menunjukkan perkembangan besurek tidak hanya berasal dari satu sumber budaya, melainkan menjadi ruang pertemuan antara simbol keagamaan, alam, dan imajinasi pengrajin.
Burung kuau termasuk motif fauna yang dikenal dalam ragam besurek. Penggunaan unsur fauna membuat komposisi kain lebih dinamis dan memperlihatkan bagaimana pengrajin memasukkan lingkungan sekitar ke dalam karya tekstil.
Mengetahui kebutuhan sejak awal akan mempermudah saat mendatangi pengrajin. Kain untuk koleksi memiliki pertimbangan berbeda dengan pakaian untuk acara resmi.
Batik tulis umumnya membutuhkan waktu dan ketelitian lebih besar dibanding produk cap atau printing, sehingga harga tidak seharusnya menjadi satu-satunya ukuran.
Produk seperti tunik, outer, kemeja, blazer, dan kaftan dari Oase Gallery yang tercatat di Karya Kreatif Indonesia menjadi contoh adaptasi besurek ke busana kontemporer.
Tidak selalu harus membeli kain berukuran besar. Aksesori, kerudung, tas, atau produk dekorasi bisa menjadi alternatif yang lebih praktis. Swarnabumei, misalnya, mengembangkan produk besurek hingga pakaian dan aksesori.
Perbedaan teknik pembuatan berpengaruh pada tampilan, harga, dan karakter produk.
Batik tulis dikerjakan secara manual sehingga detail terasa lebih personal. Perbedaan kecil pada garis atau komposisi justru menjadi bagian dari karakter pengerjaan tangan. Atiq Batik tercatat memasarkan kain besurek berbahan sutra dengan teknik ini.
Batik cap menggunakan alat cap untuk membuat motif secara konsisten dan relatif efisien. Swarnabumei memiliki Kain Cap Besurek Azura dengan bahan katun dan teknik cap.
Teknik printing memungkinkan motif diproduksi dalam jumlah banyak dengan harga lebih terjangkau untuk kebutuhan tertentu. Penelitian tentang seni kerajinan besurek mencatat bahwa teknik produksi di Bengkulu meliputi tulis, cap, dan printing.
Di balik setiap kain besurek terdapat pengetahuan tentang motif, komposisi, pewarnaan, teknik pengerjaan, dan cara menerjemahkan identitas daerah ke dalam benda yang dapat digunakan. Kementerian Pendidikan memasukkan Kain Besurek dalam daftar Warisan Budaya Takbenda Bengkulu pada kategori