Kopi Bubuk Khas Bengkulu Tembus Rp 120 Ribu Per Kilogram, Pelaku Usaha Keluhkan Pajak dan Persaingan

Penulis: Hendrizal Satria  •  Kamis, 03 September 2026 | 10:29:31 WIB
Pengusaha kopi bubuk khas Bengkulu menyangrai biji robusta secara manual untuk menjaga kualitas produk.

BENGKULU — Kopi bubuk lokal asal Bengkulu masih menjadi primadona di tengah gempuran produk kopi sachet dan kedai kopi modern. Salah satu pengusaha yang bertahan adalah Dodi, yang menjalankan usaha keluarga memproduksi kopi bubuk robusta dari biji pilihan yang dibeli langsung dari petani di Bengkulu Selatan dan Bengkulu Utara.

Setiap kilogram kopi bubuk dijual Dodi dengan harga Rp 120 ribu. Angka itu disebutnya sepadan dengan kualitas yang ia jaga, mulai dari proses penyangraian hingga pengemasan yang dilakukan secara mandiri.

Proses Produksi: Dari Biji Mentah hingga Tabung Sangrai Manual

Tidak seperti kopi bubuk pabrikan yang diproses massal, Dodi mengaku masih mempertahankan cara tradisional. Biji kopi mentah yang ia beli dari petani kemudian disangrai sendiri menggunakan tabung selama beberapa jam. Setelah matang, biji didinginkan sebelum akhirnya digiling dengan mesin miliknya sendiri.

Jenis robusta dipilih karena dinilai memiliki cita rasa yang kuat dan khas. "Ini bisnis keluarga yang diwariskan turun-temurun. Kopi bubuk salah satu produk khas Bengkulu dengan cita rasa autentik," ujar Dodi.

Menurutnya, dukungan dari petani menjadi kunci utama. Ia sengaja tidak mengambil biji dari tengkulak agar kualitas tetap terjaga dan harga di tingkat petani juga lebih baik.

Kendala yang Membayangi: Pajak dan Persaingan Ketat

Meski permintaan pasar terus tumbuh, Dodi tidak menampik jika usahanya dihadapkan pada sejumlah persoalan. Ia menyoroti kebijakan perpajakan yang dirasa membebani pelaku usaha kecil. "Pajak itu beban bagi pelaku UMKM, bisa menghambat perkembangan usaha," katanya.

Selain itu, persaingan antar pelaku usaha kopi bubuk di Bengkulu dinilai semakin ketat. Banyak pemain baru bermunculan dengan inovasi kemasan dan strategi pemasaran digital.

Penikmat Kopi: Lebih Nikmat Dibanding Kopi Sachet

Tomi, salah seorang penikmat kopi setia, menilai kopi bubuk lokal Bengkulu memiliki kualitas yang tak kalah dengan produk komersial. Ia justru menganggap kopi bubuk lokal terasa jauh lebih nikmat dibandingkan kopi dalam kemasan sachet karena cita rasanya lebih kuat dan pekat.

Penilaian positif dari konsumen seperti Tomi ini menjadi modal bagi pelaku usaha untuk terus memperluas jangkauan pasar.

Apa Langkah Pemerintah yang Diharapkan?

Di tengah optimisme tersebut, masyarakat dan pelaku usaha berharap pemerintah daerah memberi perhatian lebih serius. Dukungan yang diminta mencakup stabilisasi harga bahan baku, penyediaan fasilitas pengolahan, hingga kemudahan akses pemasaran ke luar Bengkulu.

Dengan intervensi yang tepat, kopi bubuk khas Bengkulu dinilai mampu menembus pasar regional dan nasional. Sebab, potensi cita rasa dan keberadaan kebun robusta di daerah penyangga seperti Bengkulu Selatan dan Utara dinilai cukup besar untuk menopang industri rumahan ini.

Reporter: Hendrizal Satria
Sumber: rri.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top