Batik Besurek Bengkulu: Dampak Budaya dan Ekonomi bagi Warga, Motif, serta Cara Membedakan yang Asli

Penulis: Redaksi  •  Kamis, 03 September 2026 | 15:27:31 WIB
Seorang perajin menyelesaikan kain batik Besurek dengan motif kaligrafi Arab di sentra batik Bengkulu.

BENGKULU — Warga Bengkulu tidak hanya mengenal batik besurek sebagai kain bermotif, tetapi juga sebagai sumber penghidupan yang terus tumbuh. Kain yang disebut “bersurat” atau “bertulisan” ini telah dipakai dalam berbagai upacara adat, lalu merambah ke pakaian resmi, busana muslim, pakaian pesta, pakaian harian, serta aneka produk kerajinan seperti tas, dompet, dan jilbab.

Dampaknya nyata bagi masyarakat pengrajin dan perajin batik di Bengkulu. Produk turunan membuat kain ini lebih mudah dikonsumsi wisatawan dan warga, sehingga nilai ekonominya meningkat tanpa meninggalkan cerita budaya yang melekat.

Siapa yang Paling Terdampak Kehadiran Batik Besurek?

Masyarakat adat dan pengrajin batik menjadi pihak yang paling merasakan dampak langsung. Sejak dulu, kain ini digunakan sebagai perlengkapan upacara perkawinan, hiasan dalam rangkaian adat pengantin, perlengkapan siraman atau mandi calon pengantin, hiasan upacara kelahiran, perlengkapan ritual kematian, penutup jenazah dalam konteks adat tertentu, serta hiasan tiang buaian bayi.

Ketika zaman berubah, Besurek keluar dari ruang ritual dan dipakai untuk pakaian resmi, busana muslim, pakaian pesta, pakaian sehari-hari, serta cendera mata. Perluasan ini membuka lapangan kerja bagi perajin batik, perancang mode, hingga pelaku usaha mikro di Bengkulu.

Apa Arti Nama “Besurek” dan Bagaimana Sejarahnya?

Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menjelaskan bahwa Besurek berarti “bersurat” atau “bertulisan”. Motifnya memperlihatkan pengaruh kebudayaan Islam melalui unsur kaligrafi Arab, kemudian dipadukan dengan flora, fauna, termasuk Rafflesia.

Sejarah awal Besurek belum dapat dipastikan secara mutlak, tetapi tercatat Pangeran Sentot Alibasyah beserta keluarga dan pengikutnya pindah ke Bengkulu dan diduga turut memengaruhi perkembangannya. Kain ini juga telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2015 dalam domain keterampilan dan kemahiran kerajinan tradisional.

Tujuh Motif Dasar yang Menjadi Ciri Khas Besurek

Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya mencatat tujuh motif dasar yang penting dalam tradisi Besurek. Motif pertama adalah kaligrafi Arab, yang paling mudah dikenali. Namun, perlu kehati-hatian karena tidak semua tulisan Arab pada kain merupakan ayat Al-Qur'an.

Motif kedua adalah rembulan dan kaligrafi Arab, yang menggambarkan ciptaan Tuhan. Motif ketiga memadukan kaligrafi Arab dengan kembang melati, menunjukkan pengaruh Islam berdampingan dengan lingkungan alam lokal.

Motif keempat menggabungkan kaligrafi Arab dengan burung kuau. Motif kelima lebih kompleks: pohon hayat, burung kuau, dan kaligrafi Arab sekaligus. Motif keenam memadukan kaligrafi Arab, kembang cengkeh, dan kembang cempaka. Motif ketujuh melibatkan kaligrafi Arab, relung paku, dan burung punai; relung paku merupakan tanaman yang dahulu banyak dijumpai di Bengkulu.

Mengapa Tidak Semua Tulisan Arab pada Besurek Bisa Dibaca?

Museum Nasional Indonesia menjelaskan bahwa sebagian besar kain Besurek memiliki bentuk menyerupai aksara Arab tetapi tidak mempunyai makna tekstual. Beberapa jenis lain menggunakan aksara yang dapat dibaca dan memiliki makna tertentu. Pembedaan ini penting untuk menjaga penghormatan terhadap simbol keagamaan.

Oleh karena itu, saat membeli atau memakai kain, calon pembeli sebaiknya bertanya kepada pengrajin atau penjual. Jangan langsung menyebut semua motif sebagai ayat Al-Qur'an. Perhatikan pula apakah kain ditujukan untuk keperluan adat atau mode, dan hindari memperlakukan kain bermotif tulisan keagamaan secara sembarangan.

Apa Dampak Perkembangan Motif Modern bagi Warga?

Rafflesia dan bunga kibut menjadi tambahan dalam perkembangan motif Besurek. Situs resmi Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan juga menyebut Besurek sebagai kain khas Bengkulu dengan ciri kaligrafi Arab yang dipadukan dengan flora, fauna, serta ikon daerah seperti Rafflesia.

Dampaknya, motif yang dahulu dekat dengan upacara kini dapat diterjemahkan menjadi kemeja, blus, rok, selendang, jilbab, tas, dompet, tempat tisu, aksesori, dan cendera mata tanpa sepenuhnya meninggalkan identitas Bengkulu. Diversifikasi ini membuat warga tidak harus menunggu upacara adat untuk memakai Besurek.

Bagaimana Cara Mengenali Batik Besurek Asli Bengkulu?

Kain dengan motif menyerupai Besurek yang dibuat di luar Bengkulu belum tentu dapat disebut Batik Besurek Bengkulu. Dokumen Berita Resmi Indikasi Geografis dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual menunjukkan adanya upaya perlindungan nama dan karakter kain ini melalui Indikasi Geografis. Ciri khasnya mencakup motif dasar kaligrafi yang dipadukan dengan flora dan fauna Bengkulu, teknik produksi, serta penggunaan bahan pewarna alami tertentu.

Saat memilih kain, tanyakan lokasi pembuatan dan nama atau identitas pengrajin. Perhatikan teknik batik: tulis, cap, atau kombinasi. Tanyakan asal motif, periksa kualitas dan detail pengerjaan, serta simpan informasi pembelian. Jangan hanya berpatokan pada tulisan “motif Besurek” di label. Kain asli dari pengrajin Bengkulu mempunyai cerita produksi yang lebih jelas, dan nilai itu bagian dari pengalaman membeli.

Teknik Pembuatan dan Warna yang Perlu Diketahui

Besurek dibuat dengan teknik batik, dan dapat berupa batik tulis, batik cap, atau kombinasi keduanya seperti tercatat dalam dokumen resmi Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual. Koleksi Museum Islam Indonesia K.H. Hasyim Asy'ari menyimpan Batik Bengkulu motif Besurek buatan teknik batik tulis dengan ukuran 186 × 50 cm dan warna dasar ungu; benda itu dinyatakan asli dari Bengkulu.

Tahapan umum pembuatan meliputi menentukan desain dan komposisi motif, memindahkan pola ke kain, menggunakan malam pada bagian yang harus terlindungi dari pewarna, proses pewarnaan, menghilangkan malam, lalu penyelesaian dan pemeriksaan kain. Warna Besurek modern tidak selalu gelap; variasi dari cokelat klasik hingga warna cerah muncul, tetapi identitas kain tetap terlihat selama unsur karakter Besurek, teknik, cerita, dan hubungan dengan Bengkulu dipertahankan.

Mengapa Perlindungan dan Pelestarian Penting bagi Kesejahteraan Warga?

Dokumen Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual menekankan pentingnya perlindungan Batik Besurek untuk menjaga karakteristik, kelangsungan nilai budaya, penggunaan nama, kepemilikan, serta kesejahteraan pengrajin. Nilai budaya dan nilai ekonomi berjalan beriringan.

Pelestarian dapat dilakukan melalui pembelian langsung dari pengrajin lokal, dokumentasi motif dan teknik, pendidikan budaya di sekolah, pengembangan desain tanpa menghapus identitas, promosi produk berkualitas, perlindungan kekayaan intelektual, serta pengenalan sejarah kain kepada konsumen. Ketika asal-usul dan pembuatnya dihargai, transaksi berubah menjadi dukungan terhadap keberlanjutan budaya serta kesejahteraan warga Bengkulu.

FAQ

Apa arti Besurek?

Besurek berkaitan dengan makna “bersurat” atau “bertulisan”, merujuk pada karakter motif kaligrafi Arab pada kain khas Bengkulu.

Apakah semua tulisan Arab pada Besurek merupakan ayat Al-Qur'an?

Tidak. Museum Nasional Indonesia menjelaskan bahwa sebagian motif hanya menyerupai aksara Arab sebagai ornamen dan tidak memiliki makna tekstual, meski ada pula jenis yang aksaranya dapat dibaca.

Apa saja motif khas Batik Besurek?

Motif dasarnya mencakup kaligrafi Arab, rembulan, melati, burung kuau, pohon hayat, cengkeh, cempaka, relung paku, dan burung punai dalam berbagai kombinasi. Dalam perkembangan modern muncul juga perpaduan dengan Rafflesia dan unsur khas Bengkulu lainnya.

Reporter: Redaksi
Back to top