Batik Diwo Kepahiang Kian Dekat Raih Indikasi Geografis, Tim Ahli DJKI Turun Cek Proses Produksi ke 5 Kelompok Pengrajin

Penulis: Nofrizal Hasan  •  Kamis, 03 September 2026 | 20:44:31 WIB
Tim ahli DJKI memeriksa proses produksi Batik Diwo Kepahiang di lima kelompok pengrajin, Selasa–Rabu (1–2 September 2026).

Tim Ahli Indikasi Geografis Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) bersama Kanwil Kementerian Hukum Bengkulu memeriksa langsung Batik Diwo Kepahiang di lima kelompok pengrajin, Selasa–Rabu (1–2 September 2026). Verifikasi lapangan ini menjadi penentu kelayakan batik khas tersebut mendapatkan pelindungan Indikasi Geografis (IG) yang akan melindungi kekhasan dan reputasinya di pasar nasional.

KEPAHIANG — Langkah menuju pelindungan Indikasi Geografis (IG) Batik Diwo Kepahiang memasuki tahap paling menentukan. Verifikasi lapangan yang digelar selama dua hari itu tidak sekadar memastikan dokumen administrasi, melainkan menelusuri langsung proses produksi hingga karakteristik yang membuat batik ini berbeda dari daerah lain.

Kekhasan itu yang menjadi modal utama. Jika status IG resmi melekat, nama Kepahiang otomatis melekat erat pada setiap helai kain Batik Diwo — sebuah pengakuan hukum yang sulit ditiru daerah lain.

Empat Mata Angin Penentu: Motif, Bahan, Pengrajin, dan Proses

Tim lapangan yang beranggotakan Muhammad Romadhon, Eva Laida, dan Isnaini tidak datang dengan tangan kosong. Mereka membawa Dokumen Deskripsi Indikasi Geografis yang telah disusun pemohon, lalu mencocokkannya dengan fakta di lapangan.

Pengamatan tidak berhenti pada hasil akhir kain yang terbentang rapi. Tim menyisir tahapan produksi, menggali kualitas bahan, reputasi produk, hingga identitas yang melekat pada tiap motifnya.

Lima Kelompok Pengrajin Jadi Titik Pemeriksaan Pertama

Pada hari pertama, tim mengunjungi kelompok Rumah Kreatif Batik Diwo Kepahiang, Peuy Batik, Umeak Kain Diwo, Delba'es IKM Adella, dan Batik Belungguak. Di setiap lokasi, pengrajin diajak berbincang mendalam soal proses pembuatan dan nilai budaya yang mereka jaga.

Motif Selempang Emas hingga Aksara Kaganga Jadi Ciri Pembeda

Verifikasi ini pula yang menguak kekayaan visual Batik Diwo. Motif Selempang Emas, Stabik, Pucuk Rebung, dan Kembang Lima bukan sekadar hiasan. Semuanya punya keterkaitan erat dengan sejarah dan identitas masyarakat Kepahiang.

Keunikan makin diperkuat kehadiran Aksara Rikung (Kaganga) yang tersemat dalam beberapa desain. Perpaduan itu yang membuat Batik Diwo tidak sekadar komoditas ekonomi, melainkan penanda budaya yang hidup.

Hasil pemeriksaan tim ahli ini akan menjadi bahan pertimbangan penting bagi DJKI sebelum menetapkan status Indikasi Geografis Batik Diwo Kepahiang secara resmi. Satu langkah lagi, batik kebanggaan masyarakat Kepahiang menanti pengakuan yang sah.

Reporter: Nofrizal Hasan
Sumber: bengkulu.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top