BENGKULU — Penguatan emas kali ini lebih banyak ditopang faktor eksternal ketimbang permintaan fisik. Indeks dolar AS yang bergerak di dekat titik terendah dalam dua pekan membuat emas yang dihargai dalam greenback jadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain, termasuk investor di kawasan Asia.
Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures David Meger menyebut tekanan ringan pada dolar sebagai pemicu utama kenaikan.
"Pasar emas mendapat sedikit dukungan dari kondisi dolar yang belakangan berada di bawah tekanan ringan," kata Meger, seperti dikutip Reuters.
Hubungan keduanya bersifat langsung. Saat dolar melemah, harga emas dalam mata uang non-dolar turun, sehingga permintaan dari pembeli luar AS cenderung naik.
Pelaku pasar kini menunggu rilis data inflasi AS pekan ini. Angka tersebut akan menjadi petunjuk apakah The Fed masih punya ruang menahan atau memangkas suku bunga acuan.
Suku bunga yang lebih rendah umumnya menguntungkan emas, karena mengurangi opportunity cost memegang aset tanpa imbal hasil. Sebaliknya, inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan bisa menahan ekspektasi pemangkasan dan menekan harga emas kembali.
Faktor kedua yang dicermati pasar adalah harga minyak yang menembus USD100 per barel, seiring meluasnya perang di Timur Tengah.
Reli minyak menambah tekanan inflasi global dan mendorong permintaan aset lindung nilai. Emas dan minyak sering bergerak searah dalam situasi geopolitik memanas, karena keduanya dianggap proxy risiko.
Bagi investor dalam negeri, pergerakan emas dunia ini biasanya merembet ke harga emas Antam dan Pegadaian dalam beberapa hari. Namun arahnya tidak selalu identik, karena kurs rupiah terhadap dolar juga jadi variabel penentu.
Jika dolar terus tertekan dan data inflasi AS lebih rendah dari perkiraan, emas berpotensi melanjutkan penguatan. Sebaliknya, inflasi panas bisa memutar balik arah dalam waktu singkat. Investasi mengandung risiko.