Festival Berendo Budayo 2026 Kepahiang Hidupkan Tradisi Rejang, Mbin Cupik Mai Bioa Jadi Sorotan

Penulis: Hendrizal Satria  •  Sabtu, 17 Oktober 2026 | 18:16:01 WIB
Bupati Kepahiang H. Zurdi Nata membuka Festival Berendo Budayo 2026 yang digelar atas kolaborasi pemerintah daerah dan Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Bengkulu.

KEPAHIANG — Bupati Kepahiang H. Zurdi Nata menyebut tradisi daerah tidak boleh berhenti sebagai catatan sejarah atau kegiatan seremonial belaka. Menurutnya, budaya harus tetap hidup di tengah masyarakat melalui praktik, pembelajaran, dan keterlibatan aktif generasi muda.

Festival Berendo Budayo 2026 menjadi wadah bagi warga Kepahiang untuk mengenali kembali tradisi yang tumbuh di lingkungan mereka. Kegiatan ini berlangsung atas kolaborasi pemerintah daerah dan Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Bengkulu.

Mbin Cupik Mai Bioa, Tradisi Rejang yang Kini Berstatus Warisan Budaya Takbenda

Salah satu tradisi yang mendapat perhatian dalam festival adalah Mbin Cupik Mai Bioa. Prosesi memandikan bayi berusia 40 hari ini merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat Rejang sekaligus doa agar sang anak memperoleh keselamatan.

Maknanya lebih luas dari rangkaian adat semata. Di dalamnya terkandung nilai kebersamaan, rasa syukur, dan harapan keluarga terhadap kehidupan anak yang baru memasuki tahap awal pertumbuhan.

Mbin Cupik Mai Bioa kini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda. Penetapan itu memperkuat upaya perlindungan dan pewarisan tradisi agar tidak tergerus perubahan sosial maupun perkembangan gaya hidup modern.

Zurdi Nata Dorong Generasi Muda Pakai Media Sosial untuk Kenalkan Budaya

Zurdi menilai kemajuan teknologi tidak harus dipertentangkan dengan pelestarian adat. Keduanya dapat berjalan beriringan apabila dimanfaatkan secara tepat.

Ia mendorong generasi muda memakai media sosial sebagai sarana memperkenalkan kekayaan budaya Kepahiang kepada masyarakat luas. Platform digital seperti TikTok, misalnya, bisa dipakai membagikan video prosesi adat, kesenian tradisional, pakaian khas, hingga cerita di balik kebiasaan masyarakat Rejang.

Melalui cara itu, budaya lokal berpeluang menjangkau penonton lintas daerah, bahkan dikenal masyarakat di luar Provinsi Bengkulu. Pemanfaatan teknologi juga membantu mendokumentasikan tradisi agar informasi soal sejarah, tahapan pelaksanaan, dan nilai filosofisnya tetap tersedia bagi generasi berikutnya.

Zurdi mengingatkan pengenalan budaya lewat media digital tetap perlu memperhatikan ketepatan informasi dan penghormatan terhadap aturan adat. Penyebarluasan tradisi jangan sekadar mengikuti tren, tetapi juga mempertahankan makna aslinya.

Pelestarian Budaya Butuh Kerja Sama Keluarga hingga Komunitas Adat

Festival Berendo Budayo 2026 memperlihatkan pentingnya kolaborasi pemerintah daerah dan lembaga pelestarian kebudayaan dalam menjaga warisan lokal. Kegiatan semacam ini berpotensi meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap keberlangsungan adat dan kesenian daerah.

Pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari keluarga, tokoh adat, komunitas seni, lembaga pendidikan, hingga generasi muda yang akrab dengan teknologi digital. Dengan kerja sama itu, budaya tidak hanya dipertahankan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga dikembangkan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat masa kini.

Bagi Kabupaten Kepahiang, kekayaan tradisi Rejang menjadi modal identitas daerah di tengah arus perubahan zaman. Festival ini diharapkan berlanjut bukan hanya sebagai acara tahunan, tetapi sebagai pintu masuk pembelajaran budaya di lingkungan keluarga dan sekolah.

Reporter: Hendrizal Satria
Sumber: teropongpublik.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top