BENGKULU — Sejumlah benda analog yang dulu akrab di kehidupan sehari-hari kini nyaris tak dikenali generasi muda. Mulai dari disket, kaset pita, hingga mesin tik, benda-benda ini menjadi penanda pergeseran besar cara orang bekerja, belajar, dan menghibur diri sebelum era smartphone. Perubahan itu kini terlihat jelas di rumah tangga dan ruang kelas Indonesia.
Banyak anak muda sekarang hanya tahu disket sebagai ikon tombol simpan di aplikasi komputer, bukan benda fisik yang benar-benar dipakai menyimpan data. Pergeseran ini terjadi dalam rentang satu generasi, ketika penyimpanan awan dan ponsel pintar menggantikan media portabel yang dulu wajib dimiliki.
Disket pernah menjadi standar penyimpanan data pribadi sebelum munculnya CD dan flash drive. Kapasitasnya kecil, hanya 1,44 megabita untuk disket 3,5 inci, jauh di bawah kartu memori ponsel masa kini yang tembus ratusan gigabita.
Kaset pita menyimpan rekaman musik dan film sebelum platform streaming mengambil alih. Menonton film di rumah dulu berarti mengganti-ganti kaset, bukan menekan tombol putar di layar.
Mesin tik menjadi perangkat utama untuk mengetik dokumen resmi sebelum komputer pribadi masuk ke kantor dan sekolah. Suara tuts yang menekan pita dan bunyi lonceng di akhir baris menjadi pengalaman kerja yang tak lagi ditemui di kantor modern.
Di ruang kelas, sejumlah alat tulis dan perlengkapan belajar lama sudah jarang dipakai. Anak-anak sekarang lebih akrab dengan papan tulis digital dan tugas yang dikumpulkan lewat aplikasi.
Beberapa mainan yang dulu laris di pasaran kini sulit ditemukan di toko. Anak-anak zaman sekarang lebih memilih gim di ponsel atau konsol, sehingga mainan fisik kehilangan pembeli utama.
Ada pula sistem hadiah yang dulu ditukar langsung di warung sekitar rumah. Sekarang mekanisme serupa berjalan lewat aplikasi loyalitas digital dan poin belanja daring.
Penyebab utamanya bukan sekadar soal selera, melainkan efisiensi. Satu ponsel pintar sekarang menampung fungsi kamera, pemutar musik, penyimpanan dokumen, dan alat komunikasi sekaligus.
Ketersediaan internet berkecepatan tinggi di Indonesia mempercepat peralihan itu. Pengguna tidak lagi perlu menyimpan berkas secara fisik karena data bisa diakses dari mana saja lewat layanan awan.
Produsen perangkat pun mengikuti arah pasar. Pabrikan komputer sudah lama menghapus drive disket dari desain laptop, sementara produsen ponsel menghilangkan jack audio dan slot kartu memori pada sejumlah model.
Meski perangkatnya hilang, simbolnya bertahan. Ikon disket masih dipakai sebagai tombol simpan di banyak aplikasi, dan istilah "memutar ulang" masih merujuk pada kaset yang sudah tak dipakai.
Bagi pelaku bisnis digital, fenomena ini menjadi pengingat bahwa adopsi teknologi bisa berlangsung cepat dan mengubah perilaku konsumen dalam hitungan tahun. Investasi pada antarmuka yang mudah dipahami lintas generasi menjadi kian penting.