Pencarian

Festival Syarafal Anam di Bengkulu Hadirkan Strategi Baru agar Tradisi Suku Lembak Tak Ditinggal Generasi Muda

Kamis, 03 September 2026 • 19:59:01 WIB
Festival Syarafal Anam di Bengkulu Hadirkan Strategi Baru agar Tradisi Suku Lembak Tak Ditinggal Generasi Muda
Festival Syarafal Anam 2026 digelar di Taman Budaya Kota Bengkulu pada 28–29 Agustus 2026.

BENGKULU — Festival Syarafal Anam 2026 yang digelar di Taman Budaya Kota Bengkulu pada 28–29 Agustus 2026 menjadi titik tolak baru dalam upaya pelestarian budaya lokal. Pemkot Bengkulu melalui Dinas Pariwisata sengaja merancang perhelatan ini untuk memastikan kesenian khas Suku Lembak tetap relevan di tengah gempuran budaya populer yang lebih dekat dengan anak muda.

Festival ini bukan sekadar ajang hiburan tahunan. Lebih dari itu, kegiatan yang mendapat dukungan Bantuan Pemerintah Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah VII Bengkulu ini diarahkan menjadi gerakan regenerasi pelaku seni yang berkelanjutan.

Akar Tradisi Suku Lembak yang Sarat Nilai Sosial

Syarafal Anam memiliki kedudukan khusus dalam struktur sosial masyarakat Suku Lembak di Bengkulu. Kesenian ini memadukan lantunan puji-pujian bernuansa Islam dengan permainan rebana yang menjadi ciri khasnya.

Namun, nilai yang diusung tidak berhenti pada dimensi artistik belaka. Di dalam setiap pertunjukan tersirat pesan kebersamaan, religiusitas, dan semangat gotong royong yang diwariskan secara turun-temurun.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Bengkulu, Nina Nurdin, menegaskan bahwa pelestarian kesenian ini memerlukan strategi khusus yang mampu menjembatani tradisi dengan perkembangan zaman.

"Syarafal Anam bukan sekadar ketukan rebana dan lantunan puji-pujian. Ini merupakan identitas kultural yang mampu merekatkan kebersamaan masyarakat Kota Bengkulu," kata Nina.

Menurutnya, inovasi menjadi kunci agar seni tradisional tidak kehilangan tempat di tengah perubahan selera masyarakat yang semakin dinamis.

Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Kunci Keberlanjutan

Kehadiran Festival Syarafal Anam 2026 mempertemukan pelaku budaya, komunitas, seniman, serta masyarakat yang memiliki perhatian serius terhadap keberlangsungan warisan budaya daerah. Dukungan dari BPK Wilayah VII Bengkulu menunjukkan adanya sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam menjaga kesenian tradisional.

Ketua Sanggar Seni dan Tradisi Singaran Pati, Dr. Muhammad Nikman Naser, M.Pd., menilai keterlibatan anak muda merupakan modal penting untuk memastikan seni tradisi bertahan dalam jangka panjang. Ia mengajak masyarakat memberikan dukungan nyata kepada generasi muda yang berkecimpung di dunia seni.

"Kita harus berbangga ketika ada pemuda yang mau mengangkat kebudayaan daerah hingga tingkat regional maupun nasional," ujar Muhammad Nikman.

Dukungan tersebut tidak harus selalu berbentuk materi. Apresiasi, kesempatan tampil, serta penyediaan ruang berkreasi dinilai jauh lebih bermakna bagi pertumbuhan seniman muda.

Bagaimana Strategi Pemkot Menarik Minat Milenial?

Pemkot Bengkulu menempatkan festival ini sebagai instrumen untuk memperkenalkan Syarafal Anam kepada kalangan yang selama ini mungkin asing dengan kesenian tersebut. Pendekatan yang digunakan tidak lagi kaku, melainkan terbuka terhadap pembaruan penyajian tanpa menghilangkan esensi tradisi.

Harapannya, pengembangan Syarafal Anam dapat diperkuat melalui komunitas seni, lingkungan pendidikan, hingga sanggar budaya. Proses regenerasi pelaku seni diyakini akan berjalan alami apabila ekosistem pendukungnya tumbuh sehat.

Nina menambahkan bahwa perkembangan sektor pariwisata tidak dapat dipisahkan dari keberadaan budaya lokal. Destinasi wisata yang maju tetap harus memiliki karakter serta mampu mempertahankan seni dan tradisi masyarakat setempat.

Ke depan, kolaborasi antara pemerintah, seniman, komunitas adat, dan generasi muda menjadi penentu apakah Syarafal Anam hanya akan berhenti sebagai agenda tahunan atau berkembang menjadi gerakan budaya yang berkelanjutan.

Festival Syarafal Anam 2026 pada akhirnya menjadi pengingat bahwa menjaga budaya bukan hanya tugas generasi terdahulu. Warisan ini membutuhkan generasi baru yang mau mengenal, mencintai, sekaligus mengembangkannya tanpa menghilangkan akar tradisi, termasuk membuka peluang tampil di panggung nasional hingga internasional.

Follow bengkulutime.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: teropongpublik.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks