Pencarian

Situ Cisanti Bandung, Titik Nol Citarum dengan Tujuh Mata Air

Minggu, 27 September 2026 • 10:52:31 WIB
Situ Cisanti Bandung, Titik Nol Citarum dengan Tujuh Mata Air
Situ Cisanti di Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, menjadi titik nol Sungai Citarum.

BENGKULU — Situ Cisanti di Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, menjadi titik nol Sungai Citarum yang mengalir hampir 300 kilometer hingga Muara Gembong, Bekasi. Telaga seluas lima hektare di kaki Gunung Wayang ini menampung tujuh mata air utama yang airnya masih bisa diminum langsung. Kawasan ini dikelola turun-temurun oleh keluarga Juru Kunci Atep Permana sejak sebelum bendungan dibangun pada 2001-2002.

Di Desa Tarumajaya, hamparan air bening seluas lima hektare terbentang di bawah rimbunnya pepohonan Kecamatan Kertasari. Berbeda dari citra Sungai Citarum di wilayah hilir yang identik dengan pencemaran, hulu sungai ini justru memantulkan ketenangan hutan yang masih asri.

Kawasan Situ Cisanti bukan sekadar danau buatan. Tempat ini menyimpan sejarah panjang sebagai sumber kehidupan yang dijaga turun-temurun, jauh sebelum pemerintah menamainya pada awal milenium kedua.

Titik Nol Perjalanan Sungai Citarum

Dari Situ Cisanti, air mengalir sejauh hampir 300 kilometer melintasi berbagai kota di Jawa Barat sebelum bermuara di Muara Gembong, Bekasi, dan berakhir di Laut Jawa. Juru Kunci Situ Cisanti, Atep Permana (54), menegaskan posisi kawasan ini sebagai awal mula sungai terpanjang di Jawa Barat tersebut.

"Ini titik nolnya sungai Citarum. Jadi, awal mula Citarum itu dari sini yang panjang sampai Bekasi," ujar Atep.

Sebelum menjadi telaga seperti sekarang, area ini merupakan hamparan rawa alami di kaki Gunung Wayang. Pemerintah membangun bendungan pada 2001 hingga 2002, mengubah rawa menjadi danau buatan yang menampung aliran dari tujuh mata air di sekitarnya.

Tujuh Mata Air dan Filosofinya

Tujuh sumber mata air utama yang tertampung di Situ Cisanti adalah Citarum, Cikahuripan, Cikoleberes, Cihaniwung, Cisadane, Cikawudukan, dan Cisanti. Bagi masyarakat setempat, ketujuhnya bukan sekadar sumber air, melainkan simbol filosofi kehidupan yang saling berkaitan.

Mata air Citarum dimaknai sebagai pengingat agar manusia saling mendoakan jika ingin hidupnya "harum". Cikahuripan melambangkan air untuk keberlangsungan hidup, sementara Cikoleberes mengingatkan bahwa segala urusan harus diselesaikan dengan baik.

"Jadi Cikahuripan itu adalah kehidupan, maka hirupna jeung huripna. Nah, itu Cikahuripan. Terus Cikoleberes, maka kita harus beres, mungkin urusan hati, sehari-hari atau urusan kita ya yang baik ya pokoknya harus beres, gitu," kata Atep.

Filosofi mendalam juga tersirat dari Cihaniwung dan Cisadane yang membawa pesan agar manusia tidak melulu mengejar urusan duniawi. Sedangkan Cikawudukan menjadi pengingat untuk menjauhi sifat keras hati.

"Terus mata air Cikawudukan itu mata air yang keenam. Nah, itu tapi kita jangan nyimpen kalau weduk itu keras hati. Dendam, iri, dengki itu jangan, enggak boleh," tuturnya.

Atep menjelaskan, memahami dan mengamalkan makna keenam mata air tersebut akan membawa seseorang pada "Cisanti" yang sesungguhnya, yakni ketenangan yang disimpan dalam hati sanubari.

Mata Air Utama yang Jadi Magnet Wisatawan

Bagi pengunjung, mata air Citarum dan Cikahuripan menjadi daya tarik utama. Keduanya terletak berdampingan di area terdalam Situ Cisanti, tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan.

"Jadi kalau masuk, yang kanan itu Citarum, kalau yang kirinya itu Cikahuripan. Jadi dua mata air ya itu yang tersekat sama pohon yang kalau kita masuk dari sini dari pintu," ungkap Atep.

Beberapa mata air lainnya tersebar di pinggiran danau. Mata air Cisanti sendiri berada sekitar dua kilometer di luar gerbang utama, meski alirannya tetap bermuara ke situ tersebut.

Air yang Masih Layak Minum

Penjagaan ketat terhadap kearifan lokal membuat air di Situ Cisanti tetap murni. Atep menyebut mata air di kawasan ini masih aman untuk diminum langsung hingga sekarang.

"Maka alhamdulillah sampai sekarang mata air ini bisa diminum. Nah sampai sekarang itu alhamdulillah kita bisa menikmati dan bisa langsung minum, aman untuk diminum," kata Atep.

Selain nilai ekologis dan filosofis, Situ Cisanti menyimpan jejak sejarah sebagai petilasan Prabu Siliwangi dan Dipatiukur. Di dasar salah satu mata air terdapat batu yang diyakini masyarakat sebagai jejak kaki kiri sang raja Pajajaran.

Tips Berkunjung ke Situ Cisanti

Kawasan ini berada di Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, sekitar dua jam perjalanan dari pusat Kota Bandung melalui rute menuju Pangalengan. Jalan menuju lokasi berkelok dan menanjak, sehingga disarankan menggunakan kendaraan yang prima.

Waktu terbaik berkunjung adalah pagi hari saat kabut masih menyelimuti telaga dan cahaya matahari belum terlalu terik. Bawa jaket karena suhu di kawasan pegunungan ini cukup dingin, terutama pada musim kemarau.

Untuk informasi terkini soal tiket masuk, jam operasional, dan kuota pengunjung, wisatawan dapat mengonfirmasi langsung ke pengelola atau dinas pariwisata setempat. Sebagai kawasan konservasi sumber air, pengunjung diharapkan menjaga kebersihan dan tidak membuang sampah sembarangan.

Durasi ideal untuk menjelajahi Situ Cisanti adalah dua hingga tiga jam, cukup untuk menyusuri area mata air utama, berfoto, dan berbincang dengan juru kunci soal filosofi tujuh mata air. Kunjungan ke tempat ini memberi pengalaman wisata alam sekaligus pemahaman tentang nilai budaya yang jarang ditemukan di destinasi lain.

Follow bengkulutime.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: travel.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks