BENGKULU — Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, mengakui bahwa target produksi tahun ini berada dalam tekanan sejak awal tahun. Musibah pipa gas TGI dan kondisi reservoir Blok Cepu yang menua menjadi biang kerok penurunan pasokan minyak mentah. "Sumur-sumur nearfield, stepout dan new structures dari Zona 4, Zona 7 dan PHR yang dibor sampai Mei 2026 berhasil mendapatkan hasil produksi yang baik dan telah memberikan kontribusi produksi awal sekitar 10.000 BOPD," ujar Djoko dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI, pekan lalu.
Angka 10.000 barel per hari itu baru permulaan. SKK Migas menargetkan pengeboran 52 sumur pengembangan yang menjadi bagian dari program Filling The Gap (FTG) dan Triple 100. Hingga Mei 2026, baru lima sumur yang terealisasi dengan produksi awal masing-masing antara 300 hingga 1.000 BOPD. Potensi tambahan masih besar, namun waktu yang tersisa semakin sempit.
Selain pengeboran, SKK Migas mengandalkan program FTG untuk menambal lubang produksi. Dari sisi subsurface, program ini ditargetkan menyumbang tambahan 5.000 BOPD. Namun realisasinya hingga akhir Mei baru mencapai 199 BOPD, menyisakan potensi 4.800 BOPD yang harus dikejar hingga akhir tahun. "Kegiatan MLF dalam program FTG Triple 100 dan WP&B juga akan dilakukan pada 30 sumur dengan target produksi awal 30–150 BOPD per sumur," tambah Djoko.
Strategi lain yang mulai menunjukkan hasil adalah optimalisasi sumur masyarakat. Berdasarkan implementasi Permen ESDM Nomor 14 Tahun 2025, produksi dari sumur rakyat pada Mei 2026 telah mencapai sekitar 1.500 BOPD. Angka ini diperkirakan akan terus meningkat seiring bertambahnya kerja sama dengan koperasi, BUMD, dan UMKM di berbagai wilayah.
Untuk memaksimalkan sumur eksisting, SKK Migas menjalankan program work over dan well service pada 106 sumur, termasuk kegiatan Mechanical Lift Failure (MLF). Target tambahan produksi rata-rata 75 BOPD per sumur. Hingga saat ini, baru 28 kegiatan well service yang terealisasi. Sementara itu, program Massive Scale Fracturing (MSF) di wilayah kerja WP&B juga digeber. Dari target 17 MSF, dua kegiatan telah selesai dan ditargetkan mulai berproduksi pada Juni 2026. Masing-masing sumur ditargetkan mampu menyumbang tambahan 200 hingga 300 BOPD.
Dengan target 610.000 BOPD di ujung tahun, SKK Migas harus bekerja ekstra. Kombinasi antara sumur baru, perawatan sumur tua, dan optimalisasi sumur masyarakat menjadi kunci agar produksi migas nasional tidak terus merosot di tengah tekanan teknis dan infrastruktur.