BENGKULU — Jakarta, 8 Juni 2025 – Senior Trade Analyst and Government Relations Indonesia Services Dialogue (ISD Council), Anika Widiana, mengingatkan bahwa perlindungan anak di ruang digital dan pengembangan talenta muda harus berjalan beriringan. Menurutnya, pembatasan akses yang berlebihan justru dapat memperlebar kesenjangan keterampilan digital antardaerah.
Anika menjelaskan, media sosial dan platform digital saat ini telah bertransformasi menjadi tempat belajar informal. Anak-anak dan remaja tidak hanya mengonsumsi konten, tetapi juga mengembangkan kemampuan komunikasi, kreativitas, desain digital, pemrograman, hingga pemasaran digital.
"Anak-anak dan remaja saat ini adalah tenaga kerja, inovator, dan pelaku ekonomi digital Indonesia pada dekade mendatang. Karena itu, perlindungan digital perlu berjalan beriringan dengan pengembangan keterampilan yang mereka butuhkan untuk bersaing di era ekonomi berbasis teknologi," kata Anika dalam keterangannya, Senin (8/6).
Dalam konteks Indonesia, Anika menyoroti kesenjangan digital yang masih tajam. Di kota-kota besar, anak-anak memiliki akses ke berbagai perangkat dan sumber belajar, namun di banyak daerah, satu ponsel yang digunakan bersama keluarga kerap menjadi satu-satunya pintu masuk menuju pendidikan digital.
"Kebijakan yang tidak mempertimbangkan kondisi ini berisiko memperlebar kesenjangan kesempatan," ujarnya. Ia menambahkan, jika Indonesia ingin keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah, investasi pada keterampilan digital generasi muda harus menjadi prioritas.
Anika mencontohkan pendekatan Uni Eropa yang memperkuat literasi media dan keamanan digital melalui sistem pendidikan. Sementara Korea Selatan dan Singapura memanfaatkan platform digital untuk mendukung pengembangan kepemimpinan, inovasi, dan keterampilan teknologi generasi muda.
Pengalaman negara-negara tersebut menunjukkan bahwa perlindungan anak tidak harus diwujudkan melalui pembatasan akses yang berlebihan, melainkan dapat berjalan beriringan dengan pengembangan kapasitas.
Anika mendorong agar implementasi PP TUNAS diiringi penguatan literasi digital sejak dini, pendampingan bagi orang tua, serta kolaborasi antara pemerintah, institusi pendidikan, platform teknologi, dan sektor industri. Program seperti pelatihan daring, mentoring digital, kompetisi inovasi, dan pengembangan kewirausahaan digital dapat menjadi bagian dari strategi menciptakan ruang digital yang aman sekaligus produktif.
"Tujuan akhirnya bukan hanya menciptakan anak yang aman di ruang digital, tetapi juga generasi yang produktif, inovatif, dan siap menjadi penggerak ekonomi Indonesia di masa depan," tegas Anika.
Ia menutup pernyataannya dengan menekankan bahwa regulasi yang baik bukan hanya melindungi generasi muda dari risiko, tetapi juga memastikan mereka memiliki kesempatan untuk berkembang, berinovasi, dan berkontribusi pada masa depan ekonomi Indonesia.