BENGKULU — Direktur Eksekutif IPO, Dedi Kurnia Syah, memaparkan bahwa persepsi publik terhadap kinerja menteri cenderung linier dengan tingkat popularitas. Purbaya dinilai bekerja paling baik, diikuti Teddy Indra Wijaya dengan 33,5 persen dan Bahlil Lahadalia dengan 32,0 persen.
"Persepsi publik terhadap menteri yang dianggap bekerja dengan baik, ini linier dengan popularitas. Menteri Purbaya menempati posisi teratas, kemudian Seskab Teddy Indra Wijaya pada posisi kedua. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia ketiga," ujar Dedi.
Peta Kinerja Positif: Dari Pertanian hingga Kebudayaan
Di bawah tiga nama teratas, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mencatatkan 30,9 persen, disusul Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan dengan 26,5 persen, dan Menko Bidang Infrastruktur Agus Harimurti Yudhoyono dengan 25,3 persen. Penilaian positif juga diraih Menteri Kebudayaan Fadli Zon (21,4 persen) dan Menteri Luar Negeri Sugiono (20,8 persen).
Di sisi lain, sejumlah menteri lain memperoleh angka lebih rendah, seperti Menteri Agama Nasaruddin Umar (11,0 persen), Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian (10,5 persen), Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid (6,1 persen), serta Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (3,0 persen).
Natalius Pigai dan Dody Hanggodo Paling Banyak Dikritik Publik
IPO juga mengukur persepsi negatif publik terhadap kinerja menteri. Menteri HAM Natalius Pigai menempati urutan pertama dengan 51,8 persen responden menilai kinerjanya buruk, diikuti Menteri PU Dody Hanggodo dengan 48,5 persen, dan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dengan 4,5 persen.
"Jadi memang kondisi masyarakat saya kira selalu dinamis dalam memberikan penilaian," tambah Dedi saat memaparkan hasil survei.
Metodologi Survei dan Tingkat Akurasi
Survei IPO dilakukan pada 27 Juli hingga 3 Agustus 2026 dengan melibatkan 1.200 responden. Pemilihan sampel menggunakan teknik stratified multistage random sampling (SMRS), dengan margin of error 2,90 persen dan tingkat akurasi 95 persen.
Rilis survei ini menjadi bahan evaluasi publik terhadap kinerja kabinet di tengah dinamika ekonomi dan politik nasional. Penilaian terhadap Purbaya yang unggul di sektor fiskal berbanding terbalik dengan persepsi buruk yang diterima sejumlah menteri di bidang penegakan HAM dan infrastruktur.