BENGKULU — Ratusan aplikasi layanan publik yang berserakan di ponsel warga bakal dipangkas jadi satu. Pemerintah Kota Bengkulu mengembangkan aplikasi bernama "Ado Galo", yang dalam bahasa lokal berarti "Semuanya Ada", sebagai solusi atas kekacauan birokrasi digital di daerah.
Saat ini, hampir setiap OPD di Kota Bengkulu memiliki aplikasi sendiri. Mulai dari pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), pengurusan KTP, hingga perizinan bangunan, semuanya terpisah. Walikota Dedy Wahyudi menyebut kondisi ini tidak efektif dan membebani warga, terutama karena kapasitas memori ponsel yang terbatas.
"Bayangkan, masyarakat harus mengunduh puluhan aplikasi hanya untuk mengurus satu atau dua keperluan. Ini tidak efektif," ujar Dedy dalam pemaparannya di Lemhannas.
Konsep "Ado Galo" diadopsi dari studi banding ke Singapura dan Korea Selatan. Dedy terinspirasi oleh SingPass dan K-Gov, dua super apps nasional yang sukses mengintegrasikan layanan publik di negara masing-masing. Walikota Bengkulu yakin daerahnya mampu memiliki aplikasi kebanggaan serupa.
"Tidak hanya untuk mengurus administrasi kependudukan atau pajak, warga bahkan bisa melaporkan kerusakan jalan atau fasilitas umum melalui aplikasi ini. Pokoknyo ado galo!" kata Dedy penuh semangat.
Saat ini, aplikasi "Ado Galo" tengah memasuki tahap finalisasi. Tim pengembang fokus pada penguatan sistem keamanan siber untuk mengantisipasi ancaman peretasan. Antarmuka aplikasi juga disempurnakan agar ramah pengguna, terutama bagi warga yang tidak terbiasa dengan teknologi digital.
Jika semua berjalan lancar, super apps ini direncanakan diluncurkan secara resmi pada Agustus mendatang. Inovasi ini mendapat respons serius dari pemerintah pusat.
Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya menyatakan ketertarikannya terhadap proyek percontohan ini. Ia meminta Dedy Wahyudi untuk mempresentasikannya secara khusus di kemudian hari. Jika implementasi di Bengkulu terbukti sukses, sistem ini berpotensi diadopsi sebagai model nasional.
"Pak Wamen minta saya untuk mempresentasikannya secara khusus nanti. Bahkan, jika sukses, konsep ini akan dibagikan ke seluruh daerah di Indonesia," tutup Dedy.