BENGKULU — Kebijakan ini muncul di tengah tren pasar yang tidak biasa. Alih-alih meningkat, kapasitas RAM pada laptop baru justru mengalami stagnasi bahkan penurunan. Apple, misalnya, sempat menghadirkan kembali MacBook dengan RAM 8GB demi mencapai titik harga tertentu. Para analis bahkan memprediksi PC entry-level bisa punah pada 2028 jika tren ini berlanjut.
Bagi pengguna Windows 11, kondisi ini menjadi masalah serius. Spesifikasi minimum resmi sistem operasi tersebut memang hanya 4GB, tetapi para perakit PC dan pengguna berpengalaman sepakat bahwa 16GB adalah standar nyaman untuk multitasking. Microsoft sendiri sebelumnya merekomendasikan RAM 32GB untuk para gamer yang ingin sistemnya siap menghadapi game-game berat di masa depan.
Krisis pasokan DRAM yang disebut "RAMpocalypse" telah memaksa pabrikan menggunakan memori DDR4 yang lebih lambat dengan kapasitas lebih kecil. Akibatnya, laptop dengan RAM 8GB kembali membanjiri pasar sebagai penawaran kelas menengah.
Masalahnya, Windows 11 dikenal boros memori. Sistem yang berjalan buruk pada perangkat terbatas berisiko mendorong pengguna beralih ke platform lain. Sejarah mencatat, setelah Microsoft mengakhiri dukungan untuk Windows 10, penjualan MacBook meningkat karena pengguna memilih migrasi ke macOS daripada beralih ke Windows 11.
Ancaman juga datang dari SteamOS. Sistem operasi gaming besutan Valve ini disebut lebih ringan dan responsif dibanding Windows. Valve tengah menyiapkan rilis umum untuk sistem operasi tersebut, yang berpotensi menggerus pangsa pasar Microsoft di kalangan gamer.
Dalam pengumuman terbarunya, Microsoft menyatakan optimasi untuk sistem dengan RAM 8GB ke atas menjadi prioritas. Pembaruan ini merupakan bagian dari perluasan fokus pada peningkatan sistem operasi secara menyeluruh, termasuk pengalaman pengguna yang lebih cepat saat pertama kali diaktifkan, kontrol orang tua yang lebih mudah, dan interaksi suara yang lebih baik.
Sejumlah perbaikan lain juga sudah digarap dan sebagian masih dalam tahap pratinjau. Pengalaman Windows Search disebut lebih baik, opsi kustomisasi Taskbar dan menu Start semakin banyak, serta File Explorer yang lebih responsif dan andal.
Perubahan-perubahan tersebut masih tersedia dalam program Windows Insider. Pengguna umum diperkirakan baru bisa menikmatinya dalam hitungan minggu hingga beberapa bulan ke depan, sejalan dengan jadwal rilis pembaruan besar Maret 2026.
Langkah Microsoft ini patut disambut baik, terutama untuk pasar Indonesia di mana laptop dengan RAM 8GB masih menjadi pilihan utama kelas menengah. Banyak pengguna mengeluhkan Windows 11 terasa lambat saat membuka banyak tab browser atau menjalankan aplikasi produktivitas bersamaan.
Jika optimasi berjalan sesuai rencana, pengguna laptop 8GB bisa bernapas lega tanpa harus merogoh kocek lebih dalam untuk upgrade memori. Namun, efektivitas optimasi ini tetap harus dibuktikan lewat pengujian nyata setelah rilis nanti. Pertanyaannya, seberapa besar pengurangan konsumsi memori yang bisa dicapai Microsoft tanpa mengorbankan fitur dan stabilitas sistem.