BENGKULU — Gelaran GIIAS 2026 di ICE BSD City sejak Rabu (5/8/2026) menyuguhkan kompetisi ketat antar peserta pameran untuk merebut perhatian pengunjung. Di tengah hiruk-pikuk itu, peran manusia di dalam booth—khususnya SPG dan usher—justru menjadi pembeda utama antara sekadar ruang pamer kendaraan dan sebuah pertunjukan otomotif yang hidup.
Fotografer Yudistiro Pranoto yang meliput langsung perhelatan tersebut menangkap bagaimana para SPG tampil dengan busana yang disesuaikan identitas merek masing-masing. Mereka berdiri di dekat unit kendaraan, menjadi bagian dari presentasi visual yang utuh.
Dalam pameran berskala besar seperti GIIAS, pengunjung sering kali kewalahan memproses informasi dari puluhan booth yang ada. Di titik inilah SPG mengambil peran sebagai penyambut pertama sekaligus filter informasi.
Tugas mereka tidak berhenti pada senyum dan sapaan. Seorang SPG dituntut menguasai detail produk—mulai dari spesifikasi mesin, fitur keselamatan, hingga skema promo yang sedang berjalan—karena merekalah garda terdepan yang berhadapan langsung dengan calon konsumen.
Desain booth yang megah dan teknologi canggih memang menjadi daya tarik awal. Namun tanpa kehadiran manusia yang mampu berkomunikasi dengan baik, semua itu hanya menjadi pajangan statis.
Kehadiran SPG yang responsif dan informatif terbukti mampu membuat pengunjung betah berlama-lama di area booth. Interaksi langsung ini menciptakan pengalaman yang tidak bisa digantikan oleh brosur digital maupun layar sentuh sekalipun.
Fenomena di GIIAS 2026 ini menegaskan bahwa pameran otomotif modern tidak lagi mengandalkan produk semata. Kendaraan menjadi pusat perhatian, tetapi manusia di sekelilingnya yang menghidupkan suasana.
Perpaduan antara teknologi, desain produk, dan interaksi manusia inilah yang membuat GIIAS berbeda dari sekadar showroom raksasa. Pengunjung datang untuk melihat mobil, tetapi mereka pulang membawa kesan dari pengalaman berinteraksi dengan para penghuni booth tersebut.
Menariknya, antusiasme pengunjung untuk berhenti, bertanya, hingga berfoto bersama para SPG menunjukkan bahwa elemen manusiawi tetap menjadi faktor krusial dalam strategi pemasaran otomotif di Indonesia—bahkan di tengah gempuran digitalisasi.