HBA Oktober 2026 Turun, Batu Bara Kalori Tinggi Jadi USD122,52 per Ton

Penulis: Nofrizal Hasan  •  Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:21:01 WIB
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menetapkan HBA periode pertama Oktober 2026 melalui Kepmen ESDM Nomor 384.K/MB.01/MEM.B/2026.

BENGKULU — Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menetapkan Harga Batu Bara Acuan periode pertama Oktober 2026 dalam Kepmen ESDM Nomor 384.K/MB.01/MEM.B/2026 yang diteken 30 September 2026. HBA kalori tinggi 6.322 kcal/kg GAR turun jadi USD122,52 per ton dari USD123,54 per ton pada periode kedua September 2026. Penurunan ini menyentuh hampir semua golongan kalori batu bara, kecuali dua golongan berkalori rendah yang justru naik tipis.

Keputusan Menteri ESDM Nomor 384.K/MB.01/MEM.B/2026 mengatur harga patokan untuk empat golongan batu bara berdasarkan nilai kalorinya. Penetapan ini merujuk pada Keputusan Menteri ESDM Nomor 72 Tahun 2025 tentang Pedoman Penetapan Harga Patokan untuk Penjualan Komoditas Mineral Logam dan Batubara.

Dari empat golongan yang ditetapkan, dua golongan mengalami penurunan dan dua golongan lainnya naik tipis. Berikut rincian lengkapnya.

Rincian HBA, HBA I, HBA II, dan HBA III Periode Pertama Oktober 2026

Golongan batu bara kalori tertinggi, HBA dengan kesetaraan nilai kalori 6.322 kcal/kg GAR, dipatok USD122,52 per ton. Angka ini turun USD1,02 dari periode kedua September 2026 yang berada di USD123,54 per ton.

Penurunan lebih dalam terjadi pada HBA I dengan kesetaraan nilai kalori 5.300 kcal/kg GAR. Harga golongan ini ditetapkan USD90,60 per ton, turun USD3,34 dibanding periode sebelumnya yang dipatok USD93,94 per ton.

Sebaliknya, HBA II untuk kesetaraan nilai kalori 4.100 kcal/kg GAR naik tipis dari USD63,17 per ton menjadi USD63,45 per ton. Kenaikan serupa terjadi pada HBA III dengan kesetaraan nilai kalori 3.400 kcal/kg GAR, dari USD44,53 per ton menjadi USD43,84 per ton.

Mengapa Harga Batu Bara Kalori Tinggi Turun

Penurunan HBA kalori tinggi dan HBA I mengikuti pergerakan harga batu bara global yang dipengaruhi permintaan pasar ekspor, terutama dari China dan India sebagai pembeli utama batu bara Indonesia. Pelemahan harga juga berkaitan dengan musim dingin di belahan bumi utara yang belum sepenuhnya mendorong lonjakan konsumsi pembangkit listrik.

Golongan kalori rendah seperti HBA II dan HBA III justru bergerak berlawanan. Permintaan batu bara kalori rendah dari negara-negara Asia Tenggara dan Asia Selatan untuk pembangkit listrik domestik menahan harga dari penurunan lebih dalam.

Dampak ke Penerimaan Negara dan Emiten Batu Bara

HBA menjadi dasar perhitungan royalti yang dibayarkan perusahaan batu bara ke negara. Penurunan harga pada golongan kalori tinggi berpotensi menekan penerimaan royalti dari segmen tersebut, meski volume produksi tetap menjadi faktor penentu utama.

Bagi emiten batu bara di Bursa Efek Indonesia, pergerakan HBA ini menjadi acuan dalam menyusun target pendapatan kuartal IV 2026. Perusahaan dengan portofolio batu bara kalori rendah berpeluang mendapat harga jual yang lebih stabil dibanding produsen yang bergantung pada batu bara kalori tinggi.

Pemerintah menetapkan HBA setiap bulan dalam dua periode, yaitu periode pertama dan periode kedua. Penetapan ini bertujuan memberikan kepastian harga bagi pelaku usaha sekaligus memastikan penerimaan negara dari sektor mineral dan batu bara tetap terjaga.

Reporter: Nofrizal Hasan
Sumber: akurat.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top