BENGKULU — CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani menyatakan ekspor nikel Indonesia melesat dari US$3,3 miliar pada 2016-2017 menjadi US$33 miliar pada 2025. Lonjakan 10 kali lipat itu disebutnya sebagai bukti nilai tambah yang tercipta di dalam negeri, tetapi ia mengingatkan tujuan akhir hilirisasi bukan sekadar mengejar ekspor.
Rosan menegaskan hilirisasi hanya alat, bukan tujuan akhir. Menurutnya, fondasi industri nasional yang kuat adalah sasaran sesungguhnya agar pertumbuhan ekonomi Indonesia berkesinambungan dalam jangka panjang. Pernyataan itu disampaikan Rosan di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
"Ujungnya hilirisasi itu apa? Ujungnya hilirisasi adalah industrialisasi. Kita meyakini apabila kita tidak punya industri yang kuat, Indonesia tidak akan punya pertumbuhan perekonomian yang berkesinambungan dan berkelanjutan," tegas Rosan.
Sebelum program hilirisasi berjalan, ekspor nikel Indonesia pada 2016-2017 hanya sekitar US$3,3 miliar. Angka itu melesat 10 kali lipat menjadi US$33 miliar pada 2025.
"Dulu sebelum kita melakukan hilirisasi di bidang nikel, ekspor nikel kita di tahun 2016-2017 itu hanya 3,3 billion Dolar AS. Di tahun 2025 ini sudah mencapai 33 miliar Dolar AS. Jadi kenaikannya 10 kali lipat dari value added dan industrialisasi yang berjalan," kata Rosan.
Rosan menilai lonjakan tersebut sebagai bukti nyata penciptaan nilai tambah di dalam negeri. Namun ia mengingatkan Indonesia tidak boleh berhenti di titik itu.
Dalam kerangka yang dipaparkan Rosan, hilirisasi diposisikan sebagai mesin transformasi ekonomi, sementara investasi menjadi mesin pertumbuhannya. Agar keduanya bekerja optimal, ia menyebut pekerjaan rumah terbesar pemerintah saat ini adalah memperbaiki iklim investasi.
Rosan secara terbuka menyebut Indonesia tengah bersaing ketat dengan negara-negara tetangga untuk merebut investasi global.
"Kita harus memperbaiki, we have to keep reforming ourself in term of policy, in term of regulation. Karena pada saat yang sama kita competing with our neighboring countries," ujarnya.
Menurut Rosan, negara-negara tetangga terus melakukan reformasi agar proses investasi lebih cepat, tepat, dan terukur. Jika Indonesia tidak melakukan hal serupa, momentum hilirisasi yang sudah menghasilkan US$33 miliar berisiko kehilangan daya saing.
Pemerintah, kata Rosan, akan terus mendorong dan memprioritaskan program hilirisasi agar dampaknya semakin besar dan lebih baik.
"Hilirisasi ini terus kita akan dorong, kita akan terus prioritaskan sehingga dampaknya juga akan menjadi lebih besar dan lebih baik," pungkasnya.
Posisi Indonesia di rantai nikel global bergantung pada kemampuan menjaga momentum. Capaian US$33 miliar pada 2025 menjadi modal, tetapi perbaikan kebijakan dan regulasi akan menentukan apakah nilai itu bisa berlipat lagi di tahun-tahun mendatang.