BENGKULU — Nilai tukar dolar Amerika Serikat bertengger di level Rp 17.930 pada perdagangan Jumat (25/9/2026), mendekati ambang Rp 18.000 per dolar. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai pergerakan tersebut sebagai dinamika pasar yang lumrah, sementara Bank Indonesia mengungkap tekanan datang dari luar dan dalam negeri sekaligus.
Data Bloomberg menunjukkan dolar AS menguat tipis 0,08% ke posisi Rp 17.930. Pergerakan mata uang Paman Sam terhadap sejumlah mata uang lain bervariasi, namun cenderung stagnan sepanjang sesi.
Airlangga menegaskan pemerintah tidak tinggal diam menghadapi pelemahan rupiah yang sudah mendekati level Rp 18.000. Meski begitu, ia memandang naik turunnya kurs sebagai hal yang wajar di pasar valuta asing.
"Ya kita lihat saja, kita monitor. Kan fluktuasi itu sesuatu yang biasa ya," kata Airlangga di kantornya, Jakarta Pusat, Jumat (25/9/2026).
Yield US Treasury Naik ke 5,11%, Tertinggi Sejak 2007
Bank Indonesia membeberkan sejumlah pemicu pelemahan rupiah. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menyebut ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat sebagai faktor utama.
Kekhawatiran inflasi global dan outlook fiskal AS mendorong yield US Treasury 10 tahun naik hingga 5,11%, level tertinggi sejak 2007. Kenaikan imbal hasil surat utang itu membuat aset dolar kembali perkasa.
"Kondisi tersebut mendorong yield US Treasury 10 tahun naik hingga 5,11%, tertinggi sejak 2007," kata Erwin dalam keterangannya, Kamis (24/9/2026).
Konflik Timur Tengah hingga Kebutuhan Valas Importir
Tekanan eksternal datang berlapis. Ketidakpastian konflik di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak dunia, sehingga harga minyak Brent kembali menembus US$ 100 per barel.
Dari dalam negeri, kebutuhan valuta asing importir melonjak menjelang berakhirnya kuartal III 2026. Arus keluar portofolio dari aset emerging markets menambah beban rupiah.
"Dari domestik, tekanan nilai tukar dipengaruhi kebutuhan valas importir menjelang akhir triwulan III dan arus keluar portofolio dari aset emerging markets," ungkap Erwin.
Tekanan Berlapis di Tengah Berakhirnya Kuartal III
Kombinasi faktor global dan domestik membuat rupiah sulit menembus level psikologis Rp 18.000. Yield US Treasury yang melesat ke 5,11% menjadi magnet bagi modal asing untuk kembali ke aset dolar.
Harga minyak Brent di atas US$ 100 per barel memperburuk neraca perdagangan Indonesia, mengingat posisi negara sebagai importir netto minyak. Kebutuhan dolar untuk pembayaran impor energi otomatis naik.
Di sisi lain, akhir kuartal III biasanya diwarnai lonjakan permintaan valas korporasi untuk pembayaran utang luar negeri dan kewajiban impor. Pola musiman ini memperkuat tekanan terhadap rupiah.
Apa Artinya bagi Investor dan Pelaku Bisnis
Bagi investor asing, imbal hasil US Treasury 5,11% jauh lebih menarik dibandingkan surat utang negara berkembang. Ini memicu arus keluar dari aset emerging markets, termasuk Indonesia.
Pelaku bisnis yang bergantung pada bahan baku impor perlu mengantisipasi kenaikan biaya produksi. Setiap pelemahan rupiah langsung menggerus margin jika harga jual tidak bisa disesuaikan.
Eksportir justru mendapat angin segar karena produk mereka menjadi lebih kompetitif di pasar global. Namun, manfaat ini bergantung pada sektor dan struktur biaya masing-masing industri.
Pemerintah menyatakan terus memantau pergerakan kurs. Pasar menanti langkah konkret BI dalam menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan eksternal yang belum mereda.