TOKYO — Peserta berbaring di atas kasur yang disusun berjajar dalam satu ruangan. Sebelum aba-aba dimulai, mereka melakukan pemanasan ringan dan memasang alat pemantau tidur di tubuh masing-masing. Alat itu merekam kualitas tidur selama perlombaan berlangsung.
Begitu lomba dimulai, sebagian peserta langsung terlelap sambil memeluk bantal atau boneka kesayangan. Sebagian lain tampak gelisah dan terus berguling mencari posisi paling nyaman. Suasana ramai di sekitar kasur membuat tidur tidak semudah yang dibayangkan.
Setelah 90 menit, panitia memutar suara ayam berkokok sebagai penanda perlombaan berakhir. Peserta terbangun satu per satu. Dewan juri langsung mengumumkan pemenang berdasarkan data dari alat pemantau tidur.
Penilaian mencakup seberapa cepat peserta tertidur, kedalaman dan kualitas tidur, serta kestabilan tidur selama 90 menit. Kompetisi ini tidak hanya menilai siapa yang paling nyenyak, tetapi diukur secara ilmiah.
Menchiniki, juara kedua lomba, mengaku kebiasaan tidurnya selama ini dianggap negatif. Ia menyebut rasa kantuknya kini justru memberi hasil berbeda.
"Sampai sekarang, kebiasaan tidur saya seperti tidur berlebihan dan masih mengantuk hanya memberikan dampak negatif bagi masyarakat. Tapi untuk pertama kalinya, saya merasa rasa kantuk saya justru memberikan sesuatu yang baik. Mulai sekarang saya merasa bisa tidur dengan bangga," kata Menchiniki.
Peserta lain, Kenta Goto, mengaku kesulitan terlelap karena gugup dan suasana yang tidak biasa. Ia beberapa kali terbangun lalu kembali tertidur.
"Saya terus terbangun lalu kembali tertidur. Jadi secara keseluruhan, saya rasa saya berhasil mendapatkan waktu tidur yang cukup," ujar Kenta Goto.
Lomba tidur ini menjadi cara tak biasa mencari uang di Jepang. Hadiah utama senilai 2,22 juta yen atau sekitar Rp250 juta menjadi daya tarik utama bagi puluhan peserta yang ikut serta.