Amazon PHK 1.000 Karyawan Divisi Ritel di Tengah Prime Big Deal Days

Penulis: Syahrul Karim  •  Jumat, 09 Oktober 2026 | 13:22:01 WIB
Amazon memangkas sekitar 1.000 karyawan unit Stores saat Prime Big Deal Days berlangsung.

BENGKULU — Amazon memangkas sekitar 1.000 karyawan kerah putih di unit Stores yang mengelola situs e-commerce utama, tepat saat gelombang belanja Prime Big Deal Days berlangsung. Pemutusan hubungan kerja (PHK) ini menyasar pekerja di Amerika Serikat, India, dan Inggris, melanjutkan rangkaian pemangkasan setelah 30.000 posisi dihapus sejak tahun lalu.

Juru bicara Amazon menyatakan pemangkasan dilakukan karena perusahaan menilai struktur baru di unit Stores lebih memungkinkan pencapaian prioritas korporasi. Pernyataan itu disampaikan menyusul laporan sejumlah karyawan terdampak yang menghubungi Reuters dan membagikan unggahan dari kanal Slack internal perusahaan.

Informasi di kanal Slack internal menunjukkan sejumlah divisi di bawah unit Stores terkena dampak, termasuk layanan pelanggan dan layanan bagi mitra penjual. Pemangkasan juga kemungkinan meluas ke unit lain di Amazon, meski perusahaan belum merinci jumlah pastinya.

Divisi Layanan Pelanggan dan Mitra Penjual Paling Terdampak

Unit Stores mengelola situs utama perdagangan elektronik Amazon, termasuk operasi marketplace dan hubungan dengan jutaan penjual pihak ketiga. Divisi layanan pelanggan yang menangani keluhan dan pengembalian barang menjadi salah satu area yang paling terpukul.

Karyawan di Amerika Serikat, India, dan Inggris termasuk di antara mereka yang menerima pemberitahuan PHK. Seorang sumber menyebut jumlah pastinya kurang dari 1.000 karyawan kerah putih, yakni pekerja di posisi profesional dan administratif.

Pemangkasan ini bertepatan dengan Prime Big Deal Days, program promosi diskon besar yang berlangsung Selasa-Rabu pekan ini. Momentum tersebut biasanya menjadi periode belanja terbesar Amazon sebelum libur akhir tahun.

Jeff Bezos: Perusahaan Terlalu Banyak Merekrut Saat Pandemi

Pendiri sekaligus Ketua Eksekutif Amazon Jeff Bezos mengatakan PHK berkelanjutan diperlukan karena perusahaan merekrut terlalu banyak orang selama pandemi. Pernyataan itu disampaikan dalam wawancara dengan Fox News yang ditayangkan Rabu lalu.

"Orang-orang tetap di rumah dan berbelanja, dan itu merupakan periode yang luar biasa sekaligus penuh tekanan bagi kami," kata Bezos saat ditanya mengenai hilangnya 30.000 pekerjaan dalam gelombang PHK sebelumnya.

"Seluruh tim bekerja sangat keras dan melakukan begitu banyak hal, tetapi jumlah karyawan kami memang bertambah sangat besar," pungkasnya.

Rangkaian PHK Berlanjut Sejak Tahun Lalu

Pemangkasan terbaru ini merupakan kelanjutan dari serangkaian PHK skala kecil setelah gelombang besar terhadap 30.000 karyawan yang dimulai tahun lalu dan berlanjut hingga Januari. Amazon tercatat sebagai salah satu perusahaan teknologi yang paling agresif melakukan efisiensi pasca-pandemi.

Langkah serupa juga diambil sejumlah raksasa teknologi lain yang menyesuaikan jumlah karyawan setelah ekspansi besar-besaran selama 2020-2021. Fokusnya kini bergeser ke efisiensi operasional dan investasi di kecerdasan buatan.

Apa Artinya bagi Pekerja dan Investor

Bagi karyawan di unit ritel, pemangkasan ini menambah ketidakpastian di sektor teknologi yang sebelumnya menjadi magnet tenaga kerja. Bagi investor, efisiensi biaya tenaga kerja berpotensi menekan beban operasional Amazon, meski di sisi lain menimbulkan pertanyaan soal kapasitas layanan menjelang musim belanja puncak.

Saham Amazon bergerak di tengah tekanan pasar teknologi yang masih mencermati dampak pemangkasan berkelanjutan terhadap margin keuntungan perusahaan. Perusahaan belum mengumumkan apakah akan ada gelombang PHK lanjutan dalam beberapa bulan ke depan.

Reporter: Syahrul Karim
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top