BENGKULU — Serie A kini dihuni 21 pemain Inggris dan Skotlandia, jumlah terbanyak sepanjang sejarah. Inter Milan menjadi klub paling agresif dengan merekrut John Stones, Djed Spence, dan Curtis Jones dalam satu musim. Fenomena ini menandai pergeseran besar dari era 1990-an saat hanya segelintir pemain Inggris mau berkarier di Italia.
Liam Henderson membuka jalan pada 2018. Chris Smalling menyusul setahun kemudian dan menghabiskan lima tahun di AS Roma, termasuk menjadi pemain terbaik saat Roma menjuarai Conference League 2022 di bawah asuhan José Mourinho. Keduanya disebut komentator TNT Sports, Adam Summerton, sebagai pelopor gelombang baru pemain Inggris di Italia.
Inter Milan menjadi contoh paling mencolok. Klub itu mendatangkan Curtis Jones dari Liverpool, bergabung dengan Spence dan Stones yang datang setelah Piala Dunia. Sebelum kedatangan mereka, Inter sepanjang sejarah hanya pernah merekrut tiga pemain Inggris: Gerry Hitchens (1961), Paul Ince (1995), dan Ashley Young (2020).
Dari Trevor Francis hingga Gascoigne: Jejak Lama Pemain Inggris di Italia
Gelombang pertama terjadi pada 1980-an. Trevor Francis menjadi pemain pertama yang dibeli dengan harga £1 juta saat bergabung ke Sampdoria pada 1982. Ia bersaing dengan Mark Hateley dan Ray Wilkins, yang masing-masing menghabiskan tiga musim di Milan pada pertengahan dekade itu.
Paul Gascoigne menjadi bintang besar Inggris di Italia pada 1990-an. Bersamanya ada pemain seperti Franz Carr dan Danny Dichio. Sepanjang dua dekade itu, hanya segelintir pemain Inggris bermain di Serie A. Kini jumlahnya mencapai 15 orang, belum termasuk pemain Skotlandia dan Wales.
Jauh sebelum era itu, Charles Adcock menjadi orang Inggris pertama yang memperkuat klub Italia. Mantan tentara itu pindah ke Padova usai Perang Dunia II setelah ditemukan saat bermain untuk tim tentara Inggris. Ironisnya, Adcock tidak pernah bermain di liga domestik negaranya sendiri. Ia kembali ke Inggris pada 1953 dan memperkuat Peterborough United di liga non-profesional.
Faktor Ekonomi Premier League dan Reputasi Pemain Skotlandia
Ketimpangan ekonomi antara Premier League dan liga-liga Eropa menjadi pemicu utama. Pemain bagus yang tersisih dari skuad utama klub Inggris melihat Italia sebagai peluang tampil lebih penting di klub besar.
"Pemain bagus yang mungkin berada di pinggiran tim Premier League melihat Italia sebagai kesempatan menjadi pemain lebih penting di liga besar dengan klub ternama," kata Summerton.
Reputasi pemain Skotlandia turut mengubah pandangan klub Italia. Lewis Ferguson pindah ke Bologna pada 2022, terpilih sebagai gelandang terbaik Serie A 2023-24, dan menjadi kapten saat Bologna mengalahkan Milan di final Coppa Italia tahun lalu. Scott McTominay bergabung dengan Napoli, meraih gelar pemain terbaik Serie A, dan mengantar klub menjuarai liga.
"Direktur olahraga Italia mengatakan mereka sangat menghargai kerja keras, profesionalisme, dan kegigihan pemain Skotlandia," ujar Summerton. "Mereka juga punya reputasi bagus di ruang ganti, itu sangat menarik saat membangun tim."
Perubahan Cara Pandang Pemain Muda Inggris
Summerton menilai generasi baru pemain Inggris lebih terbuka terhadap budaya berbeda. Dunia yang makin terhubung membuat pemain melihat tantangan bermain di luar negeri sebagai peluang, bukan kesulitan.
"Banyak yang berusaha merangkul budaya, bahasa, bahkan makanan. Apresiasi Scott McTominay terhadap tomat Napoli sudah terkenal," ujarnya.
Fikayo Tomori menjadi contoh lain. Bek itu belajar bahasa Italia dan tak lama setelah bergabung dengan Milan pada 2020 sudah melakukan wawancara dalam bahasa setempat. Sikap ini membantah anggapan bahwa pemain Inggris enggan berasimilasi.
Akademi Premier League juga berkembang pesat dalam menghasilkan pemain yang mumpuni secara teknis, cocok dengan gaya permainan Serie A. Omari Hutchinson, lulusan akademi Chelsea yang baru dipinjamkan Milan dari Nottingham Forest, menjadi salah satu buktinya.
Stones mengaku senang bergabung dengan Inter. "Saya punya begitu banyak emosi. Saya benar-benar bahagia, bangga, dan bersemangat," katanya.