Kabut Asap Karhutla Kalimantan Berdampak ke 113.336 Kasus ISPA, Warga Samarinda Terpaksa Batasi Aktivitas

Penulis: Nofrizal Hasan  •  Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:46:32 WIB
Warga Samarinda membatasi aktivitas di luar rumah akibat kabut asap karhutla yang menyelimuti wilayahnya.

SAMARINDA — Hiero (35), warga Samarinda, Kalimantan Timur, harus ekstra waspada mengawasi kesehatan anaknya yang berusia 3 tahun di tengah kabut asap karhutla yang menyelimuti wilayahnya. Ia membatasi aktivitas di luar rumah karena paparan asap dinilai membahayakan anaknya yang masih balita.

"Kabut asap yang menurunkan kualitas udara sangat mengganggu aktivitas harian saya. Saya semakin waspada dan membatasi aktivitas di luar rumah," kata Hiero saat berbincang dengan Liputan6.com, dikutip Rabu (14/10/2026).

"Saya harus lebih ekstra mengawasi kesehatan anak saya yang masih berusia 3 tahun akibat paparan asap karhutla," ujarnya.

Hiero berharap Pemerintah Kota Samarinda dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur meningkatkan upaya pemadaman agar kabut asap tidak terus mengganggu kehidupan warga.

Kualitas Udara di Sejumlah Wilayah Masuk Kategori Berbahaya

Juru Bicara Kementerian Kesehatan Widyawati menyampaikan bahwa peningkatan kasus gangguan pernapasan sejalan dengan memburuknya Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di sejumlah daerah. Kualitas udara di wilayah tersebut masuk kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya.

"Laporan kasus ISPA terbagi dalam kelompok usia, yakni sebanyak 26.545 kasus menyerang balita usia 0 hingga 5 tahun, serta 86.791 kasus terjadi pada kelompok usia di atas 5 tahun," kata Widyawati, dikutip Rabu (14/10/2026).

Kualitas udara kategori berbahaya teridentifikasi di sejumlah wilayah, mulai dari Kabupaten Kotawaringin Timur hingga Kabupaten Murung Raya di Kalimantan Tengah. Kualitas udara kategori sangat tidak sehat tercatat di Baning Kota, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, serta Kabupaten Tebo, Jambi.

Kasus ISPA dilaporkan di 63 kabupaten/kota yang tersebar di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan.

Pekerja Harian dan Sektor Informal Ikut Menanggung Dampak

Rosa (32), warga Samarinda yang bekerja di sektor jual beli alat berat, menyoroti tantangan keselamatan kerja di lingkungannya. Ia juga menghadapi kesulitan memperoleh air bersih di tengah kondisi Sungai Mahakam yang mengalami intrusi air laut.

"Kabut asap ini tentu memengaruhi standar K3 di lingkungan kerja saya," kata Rosa.

"Selain kondisi kabut asap yang semakin tebal, warga Samarinda juga dihadapkan dengan sulitnya memperoleh air bersih," ujarnya.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membenarkan bahwa karhutla di Kalimantan telah mengganggu roda perekonomian lokal.

"Ya tentu dampak perekonomian di wilayah tersebut karena kegiatan ekonomi kan terganggu. Plus perlu ada penanggulangan terhadap karhutla tersebut," ujar Airlangga saat ditemui di kantornya di Jakarta, dikutip dari Antara.

Dampak tersebut dirasakan pekerja harian yang menggantungkan penghasilan pada mobilitas masyarakat, termasuk pengguna transportasi udara. Sopir taksi bandara, porter, hingga petugas ground handling ikut menanggung akibat penerbangan yang tertunda dan jarak pandang yang memburuk.

Dampak Karhutla Meluas ke Pekerja Sektor Informal

Kelompok pekerja tersebut menyampaikan kesulitan yang mereka hadapi kepada anggota DPR dari daerah pemilihan Kalimantan Tengah, Andina Thresia Narang. Berkurangnya aktivitas penerbangan berarti menyusutnya kesempatan memperoleh penghasilan, sementara kebutuhan keluarga tetap harus dipenuhi setiap hari.

"Ini menunjukkan bahwa dampak karhutla meluas hingga pekerja sektor informal yang mengandalkan penghasilan harian untuk memenuhi kebutuhan keluarga," kata Andina.

Kebakaran yang berlangsung sejak Juli 2026 memicu kabut asap di sejumlah wilayah Kalimantan. Kondisi tersebut membatasi jarak pandang, bahkan pada siang hari, dan dampaknya dirasakan hingga negara tetangga.

Reporter: Nofrizal Hasan
Sumber: pedomanbengkulu.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top