Rawa Jombor Klaten Surut Akibat Kemarau, Perahu Wisata Setop Operasi

Penulis: Yusrizal Ahmad  •  Senin, 19 Oktober 2026 | 18:21:01 WIB
Debit air Rawa Jombor di Klaten menyusut akibat kemarau panjang.

BENGKULU — Debit air Rawa Jombor di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, menyusut tajam akibat kemarau panjang dan memaksa sebagian perahu wisata tradisional berhenti beroperasi. Wisatawan masih ramai datang, tetapi pengelola mulai menolak pesanan karena khawatir perahu kandas. Jika hujan tak turun dalam dua pekan ke depan, seluruh armada perahu dan speed boat berpotensi libur total.

Rawa Jombor yang terletak di Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, biasanya jadi tujuan alternatif wisata air dan pemancingan di jalur Solo–Yogyakarta. Kini tepi sisi timur rawa mulai mengering, dasar rawa terlihat, dan rumput tumbuh di daratan baru yang muncul ke permukaan.

Pengelola perahu wisata tradisional Rawa Jombor, Sutomo, menyebut sebagian perahu sudah menghentikan operasional. Mesin kapal kerap kandas karena air terlalu dangkal, sementara sampah yang terbawa arus memperparah kondisi mesin.

Dampak Surutnya Air pada Operasional Perahu

Sutomo menjelaskan, surutnya air membuat rawa makin dangkal dan mesin kapal menyangkut sampah. Sejumlah pengelola memilih tidak menerima pesanan baru ketimbang menanggung risiko perahu rusak.

"Di tempat saya, sudah hari apa itu gak menerima bookingan lagi karena dikhawatirkan perahu bisa kandas. Daripada nanti menanggung risiko perahu rusak lebih baik kami libur dulu," tutur Sutomo, yang juga ketua paguyuban pengelola perahu wisata tradisional.

Speed boat disebut sudah libur sejak dua pekan sebelumnya. Perahu yang masih melayani wisatawan hanya yang berada di sisi barat laut, karena air di dermaga masih cukup dalam.

Debit Air Turun Drastis dari Kapasitas Normal

Koordinator operasional Rawa Jombor, Nandung Setiawan, memaparkan daya tampung normal rawa sekitar 3.200 meter kubik dengan luasan total 178 hektare. Posisi air saat ini hanya sekitar 732 meter kubik.

"Luasan total 178 hektare, posisi air sekarang sekitar 732 meter kubik. Kalau terdampak pasti kapal terdampak karena di pinggiran mulai terlihat pulau-pulaunya," ungkap Nandung.

Di bagian barat laut hingga tengah, air masih setinggi orang dewasa sehingga sebagian kapal bisa berlayar terbatas. Area jelajah perahu tidak lagi bisa jauh ke selatan dan timur karena karamba di bagian tengah mulai tampak.

Sampah dan Bambu Bekas Karamba Jadi Kendala

Selain kekeringan, sisa bambu dari karamba dan jaring apung yang belum dibersihkan membahayakan lintasan perahu. Nandung mengaku pihaknya tidak mampu mencabut seluruh bambu itu sendirian.

Ia mengimbau pemilik karamba dan rakit memanfaatkan momentum surutnya air untuk membersihkan bambu yang tak terpakai. Wisatawan, pemancing, dan pedagang kaki lima juga diminta tidak membuang sampah ke rawa maupun sungai.

"Ya untuk ikut menjaga sampah agar tidak dibuang sembarang. Termasuk PKL diimbau untuk tidak membuang sampah di rawa atau sungai, kita jaga bersama rawa," imbuhnya.

Yang Perlu Diketahui Traveler Sebelum ke Rawa Jombor

Bagi yang tetap ingin berkunjung, siapkan ekspektasi bahwa tidak semua wahana air tersedia. Perahu tradisional masih bisa dicoba di sisi barat laut selama tinggi air memungkinkan, tetapi speed boat tidak beroperasi.

Datang lebih awal dan konfirmasi langsung ke pengelola di dermaga soal ketersediaan perahu. Bawa pelindung matahari karena area tepi rawa minim peneduh, dan jangan memaksakan memesan perahu saat air sedang surut.

Informasi terkini soal jam operasional dan tarif perahu dapat dikonfirmasi ke pengelola setempat atau dinas pariwisata Kabupaten Klaten, mengingat kondisi debit air berubah cepat mengikuti cuaca.

Rawa Jombor tetap layak disinggahi untuk pemandangan rawa dan aktivitas memancing, asalkan traveler menyesuaikan rencana dengan kondisi air. Pantau prakiraan hujan sebelum berangkat, karena hujan dalam dua pekan ke depan menjadi penentu apakah seluruh armada perahu kembali beroperasi.

Reporter: Yusrizal Ahmad
Sumber: travel.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top