BENGKULU — Indonesia bersama Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam resmi mengajukan Tari Zapin sebagai warisan budaya takbenda UNESCO melalui jalur nominasi bersama. Keempat negara menyepakati langkah ini karena Zapin berakar pada budaya Melayu yang sama, dengan Indonesia berperan sebagai penghubung berbagai komunitas pelestarinya. Pengajuan menyasar pengakuan UNESCO Intangible Cultural Heritage of Humanity pada 2027.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut Zapin bukan sekadar tarian, melainkan jejak budaya yang menghubungkan empat negara sejak masa sebelum batas wilayah modern terbentuk. Jalur nominasi bersama ini menjadikan Indonesia salah satu penggerak utama proses pengajuan.
Empat negara yang terlibat memiliki varian Zapin masing-masing dengan keunikan tersendiri. Perbedaan itulah yang justru memperkuat berkas nominasi, karena menunjukkan kekayaan tradisi yang tumbuh dari akar Melayu yang sama.
Peran Indonesia dalam Nominasi Bersama
Indonesia memposisikan diri sebagai penghubung ke berbagai komunitas yang masih melestarikan Zapin di lapangan. Fadli Zon menyatakan pihaknya aktif menjalin komunikasi dengan komunitas-komunitas tersebut untuk merangkai dukungan dari berbagai varian tarian yang ada.
"Kita termasuk yang tadi mengontak dengan komunitas-komunitas yang ada, menjahit ya dukungan dari berbagai varian yang ada. Dan di samping tadi juga disampaikan, kita termasuk yang leading untuk penominasian ini," kata Fadli Zon.
Selain menghubungkan komunitas, Indonesia turut mendukung penyiapan persyaratan nominasi yang diminta UNESCO. Berkas tersebut mencakup dokumentasi varian Zapin dari masing-masing negara peserta.
Alasan Keempat Negara Berbagi Satu Nominasi
Secara historis, Zapin lahir dan berkembang di kawasan Melayu jauh sebelum negara-negara di Asia Tenggara memiliki perbatasan seperti sekarang. Fadli Zon menyebut persilangan, pertemuan, migrasi, dan akulturasi budaya menjadi bagian dari perjalanan kesenian ini.
"Sekarang kita mengusulkan untuk 2027 ini Zapin sebagai warisan budaya takbenda dunia UNESCO Intangible Cultural Heritage of Humanity dari UNESCO. Ini adalah satu budaya yang tentu saja sama-sama kita berbagi, karena pada waktunya di zaman sebelumnya kita tidak terkait dengan batas-batas wilayah, tentu terjadi juga persilangan, pertemuan, migrasi, dan juga akulturasi budaya," ujar Fadli Zon dalam keterangan Selasa (29/9).
Menurutnya, pengajuan bersama ini menjadi cara merawat identitas masing-masing negara sekaligus mengakui sejarah budaya yang saling terhubung.
"Dengan demikian kita merawat identitas masing-masing, sekaligus mengakui sejarah budaya yang saling terhubung, dan share heritage yang hidup melintasi batas-batas negara," tambahnya.
Dukungan Singapura untuk Generasi Muda
National Heritage Board (NHB) Singapura lebih dulu mengumumkan kesepakatan pengajuan ini. CEO NHB Chang Hwee Nee menilai Zapin punya posisi penting bagi Singapura dan negara tetangga.
"Kami berharap pencapaian ini dapat menginspirasi generasi baru untuk terus menjaga bentuk tari yang berharga ini tetap hidup sebagai bagian dari warisan budaya kita. Sekaligus mendorong masyarakat Singapura untuk mengenal dan merangkul kekayaan tradisinya," ujar Chang.
Harapan serupa berlaku di Indonesia. Komunitas Zapin di sejumlah daerah, terutama di kawasan Melayu seperti Riau, Jambi, dan Kalimantan Barat, masih rutin menampilkan tarian ini di acara adat, pernikahan, dan festival budaya.
Apa Artinya bagi Pengakuan UNESCO 2027
Pengajuan ke UNESCO melalui jalur nominasi bersama berarti keempat negara menanggung proses penilaian yang sama. Hasilnya dijadwalkan diumumkan pada 2027, bergantung pada kelengkapan dokumen dan verifikasi dari badan penilai UNESCO.
Bagi traveler yang tertarik mengenal Zapin lebih dekat, sejumlah festival budaya di Riau dan Kepulauan Riau kerap menampilkan pertunjukan ini secara terbuka. Informasi jadwal terkini dapat dikonfirmasi melalui dinas pariwisata dan kebudayaan setempat.