Film Happily Ever After Tayang Perdana di TIFF, Debut Akting Shuhua

Penulis: Yusrizal Ahmad  •  Minggu, 13 September 2026 | 18:19:01 WIB
Sutradara Roan dan aktris Shuhua menghadiri penayangan perdana film Happily Ever After di Toronto International Film Festival.

BENGKULU — Nama Roan sendiri sudah dikenal di lingkaran festival sejak debutnya, "American Girl," yang tayang di seksi Asian Future Tokyo International Film Festival. Film itu lalu mengantongi tujuh nominasi Golden Horse Award dan membawa pulang tiga piala, termasuk Best New Director.

Tekanan Film Kedua dan Peringatan Ang Lee

Sukses "American Girl" membuat ekspektasi terhadap film kedua Roan otomatis naik. Sutradara peraih Oscar, Ang Lee, sempat memberi peringatan saat perayaan Golden Horse.

"Director Ang Lee reminded me that the second film is always the hardest," kata Roan kepada Variety.

Roan menyebut penayangan "Happily Ever After" di TIFF sebagai titik awal yang berarti. Ia berharap film ini membuka lebih banyak percakapan dan peluang bagi sinema Taiwan di panggung internasional.

Keluar dari Label Autobigrafi

"American Girl" diangkat dari masa kecil dan sejarah keluarga Roan. Cerita itu menuai pujian, tapi juga memunculkan pertanyaan apakah ia bisa keluar dari wilayah autobigrafi.

Dari tahap pengembangan, Roan sudah bertekad melepas label tersebut. Ia sedang memasuki fase hidup yang berbeda dan bahkan tengah merencanakan pernikahannya sendiri saat menulis naskah.

"This fictional story went from nothing to a complete screenplay within a year," ujarnya. Naskah itu juga menangkap pergeseran emosi yang dialami ia dan teman-temannya di berbagai tahap kehidupan.

Dua Saudari dan Belajar dari Frozen

"Happily Ever After" menyorot dinamika emosi dua saudari. Awalnya cerita lebih menitikberatkan sang adik yang diperankan Shuhua, sebelum berkembang menjadi narasi dua protagonis.

Roan mengaku menonton ulang "Frozen" saat mengembangkan naskah. Ia terkesan pada keseimbangan arc dua saudari di film itu, lalu menganalisis skripnya untuk mempertajam ritme naskahnya sendiri.

Debut Film Shuhua dan Pendekatan di Lokasi Syuting

Kabar casting Shuhua menarik perhatian lintas industri, dari film, televisi, hingga musik. Personel (G)I-DLE itu menjalani debut akting layar lebar lewat proyek ini.

"When we met Shuhua, we only asked her to read two scenes," kata Roan. Ia menyebut kepercayaan diri dan kepribadian Shuhua muncul natural hingga keputusan casting diambil saat itu juga.

Di lokasi syuting, Roan membangun rasa keluarga di antara para pemain. Shuhua tidak dipanggil dengan nama asli atau nama karakternya, melainkan "adik perempuan." Sebelum syuting, Shuhua juga diminta memberi nama kucing yang tampil sebagai hewan peliharaan keluarga.

Pengalaman Shuhua sebagai anak tengah dari tiga bersaudari memberi kedalaman emosi pada perannya. Roan hanya memberi satu arahan: setiap gerakan dan dialog harus punya motivasi.

"Only after you have convinced yourself can your performance move the audience," ujarnya.

Visi Sinema Taiwan Generasi Baru

Roan menyoroti posisi sineas generasi sebelumnya seperti Hou Hsiao-hsien dan Edward Yang yang tetap punya visibilitas internasional besar. Menurutnya, konteks zaman mereka memungkinkan eksplorasi artistik hingga level tinggi.

Generasi Roan, katanya, membawa kesadaran genre lebih kuat dan keberanian bereksperimen dengan berbagai bentuk. Ia menyebut setiap festival seperti eksperimen sosial, tempat cerita diuji pada penonton internasional.

Selain klasik Taiwan, Roan menyebut Agnès Varda sebagai pengaruh formatif. Ia juga merujuk siklus film Ozu Yasujir?, drama keluarga Kore-eda Hirokazu, dan eksplorasi batin perempuan Greta Gerwig. Film favoritnya tahun ini adalah "The World of Love" karya sutradara Korea Selatan Yoon Ga-eun.

Selama pengembangan awal "Happily Ever After," Roan banyak membaca, termasuk novel "Ghost Town" karya penulis Taiwan Kevin Chen. Kisah soal keluarga, identitas, dan harga diri memberi bentuk pada arah fiksinya tanpa melepas kejujuran emosi dari karya sebelumnya.

Di Toronto, Roan ingin bertukar gagasan dengan sineas dari berbagai negara. Ia berharap "Happily Ever After" memicu percakapan soal pertanyaan di judulnya: apa artinya bahagia dengan syarat yang kita tentukan sendiri.

Reporter: Yusrizal Ahmad
Sumber: variety.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top