Fenomena 'Telor Ceplok' Muncul di Kawah Gunung Anak Krakatau Usai Erupsi

Penulis: Afrizal Hidayat  •  Sabtu, 19 September 2026 | 16:06:31 WIB

BENGKULU — Genangan air berwarna kuning menyerupai telur ceplok terlihat di kawah Gunung Anak Krakatau, Lampung Selatan, setelah erupsi besar 3 September 2026 mereda. Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau, Suwarno, memastikan fenomena tersebut wajar dan berasal dari air yang terkontaminasi gas belerang. Status gunung masih Level III atau Siaga dengan radius bahaya 3 kilometer.

Apa Sebenarnya Genangan 'Telor Ceplok' Itu

Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau Lampung Selatan, Suwarno, menjelaskan bahwa genangan tersebut merupakan air kawah yang terkontaminasi gas belerang. Warna kuning pekat terbentuk dari reaksi belerang dengan material lapisan dinding kawah.

"Iya itu kawah GAK, jadi itu adalah air yang terkontaminasi dengan gas belerang," kata Suwarno, dikutip dari detikSumbagsel, Jumat (18/9).

Menurut Suwarno, fenomena serupa tidak selalu muncul di setiap gunung api. Kandungan belerang memang ada di semua gunung api, tetapi genangan air di kawah menjadi syarat terbentuknya visual seperti telur ceplok.

"Tidak semuanya, kalau belerang semuanya gunung api pasti ada. Di sana (GAK) ada genangan air, terkontaminasi oleh belerang jadi seperti itu warnanya, dan juga bisa terkontaminasi dengan lapisan dinding kawah itu," jelasnya.

Kegempaan Masih Tercatat Meski Erupsi Mereda

Aktivitas Gunung Anak Krakatau belum sepenuhnya berhenti. Pada Jumat (18/9) dini hari, tercatat satu kali gempa frekuensi rendah dengan amplitudo 12 milimeter dan durasi 5 detik. Selain itu, satu gempa tektonik jauh terekam dengan amplitudo 8 milimeter dan durasi 72 detik.

"Kalau kegempaan masih terjadi, tercatat tadi malam tremor menerus (microtremor) terekam dengan amplitudo 0,5-6 mm (dominan 2 mm)," kata Suwarno.

Data kegempaan ini menjadi indikator bahwa sistem vulkanik GAK masih aktif meski visual permukaan tampak tenang. Pemantauan intensif terus dilakukan Pos Pantau Gunung Anak Krakatau di Lampung Selatan.

Status Siaga dan Radius Bahaya 3 Kilometer

Status Gunung Anak Krakatau saat ini berada pada Level III atau Siaga. Otoritas meminta masyarakat tidak mendekati kawasan gunung dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.

Radius bahaya ini berlaku untuk nelayan, wisatawan, dan warga sekitar Selat Sunda yang melintas dekat kawasan. Pembatasan ini merujuk pada potensi lontaran material vulkanik dan gas beracun yang masih bisa terjadi sewaktu-waktu.

Mengapa Fenomena Ini Penting bagi Warga Sekitar

Kemunculan genangan belerang di kawah bukan sekadar fenomena visual yang menarik untuk diabadikan. Bagi warga Lampung Selatan, Banten, dan sekitar Selat Sunda, kondisi kawah menjadi salah satu indikator aktivitas magmatik di bawah permukaan.

Ketika genangan air kawah berubah warna secara signifikan, biasanya diikuti perubahan suhu dan komposisi gas. Pemantauan berkala oleh Pos Pantau memungkinkan peringatan dini jika terjadi peningkatan aktivitas yang mengarah pada erupsi baru.

Masyarakat yang hendak beraktivitas di sekitar pesisir Selat Sunda disarankan terus memantau informasi resmi dari Badan Geologi dan Pos Pantau Gunung Anak Krakatau. Informasi status gunung dapat berubah cepat mengikuti perkembangan data kegempaan harian.

Reporter: Afrizal Hidayat
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top