BENGKULU — Iyud Dwi Mursito, bakal calon ketua PWI Bengkulu, menilai wartawan memiliki kedekatan unik dengan masyarakat karena setiap hari berhadapan langsung dengan persoalan di lapangan. Potensi itu, menurutnya, harus diubah menjadi aksi nyata dan terorganisir, bukan sekadar berhenti setelah berita ditulis.
"PWI bukan hanya organisasi profesi yang mengurus wartawan. PWI juga harus hadir di tengah masyarakat, mendengar persoalan rakyat dan ikut memberikan solusi," kata Iyud dalam keterangan yang diterima, Sabtu (11/7).
Program PWI Bantu Rakyat mencakup sejumlah kegiatan sosial yang terukur. Rencananya meliputi penggalangan bantuan untuk korban bencana alam, pendampingan warga kurang mampu, bantuan pendidikan bagi anak dari keluarga prasejahtera, donor darah, kegiatan kesehatan, hingga advokasi terhadap persoalan pelayanan publik.
Iyud menekankan bahwa program ini tidak akan bersifat seremonial atau sekadar bagi-bagi bantuan sesaat. Setiap kegiatan akan disusun dengan sasaran jelas dan dilaksanakan secara rutin, baik di Kota Bengkulu maupun kabupaten.
Untuk memperkuat dampak program, Iyud membuka pintu kolaborasi dengan Gubernur Bengkulu, pemerintah kabupaten dan kota, dunia usaha, perguruan tinggi, lembaga sosial, dan elemen masyarakat lainnya. Menurutnya, kerja sama ini diperlukan agar bantuan lebih tepat sasaran.
Namun, ia memberikan catatan tegas. Kolaborasi dengan pemerintah tidak boleh menghilangkan independensi dan sikap kritis wartawan. "Berkolaborasi bukan berarti kehilangan daya kritis. Wartawan tetap harus mengawasi pemerintah, tetapi dalam persoalan kemanusiaan dan kepentingan rakyat, tidak ada alasan untuk tidak bekerja bersama," ujarnya.
Iyud juga merencanakan pembentukan tim khusus di dalam kepengurusan PWI yang bertugas menerima laporan masyarakat, memverifikasi persoalan, membangun jaringan bantuan, dan mengawal penyelesaiannya bersama pihak terkait. Aduan warga akan dipilah: mana yang butuh bantuan langsung, pendampingan, publikasi, atau koordinasi dengan pemerintah.
"Tidak semua persoalan selesai dengan pemberitaan. Ada masyarakat yang membutuhkan akses, pendampingan, dan pihak yang menghubungkan mereka dengan pemerintah. Di situlah PWI dapat mengambil peran," jelas Iyud.
Selain bantuan langsung, program ini akan diisi edukasi publik seperti literasi media, pencegahan berita bohong, pendidikan jurnalistik bagi pelajar, kampanye perlindungan anak dan perempuan, serta sosialisasi bahaya judi daring dan penyalahgunaan narkoba.
Menurut Iyud, gagasan ini adalah bagian dari tekad menghidupkan kembali PWI Bengkulu sebagai organisasi yang aktif dan bermanfaat. Ia mengukur keberhasilan organisasi bukan dari banyaknya rapat atau pelantikan, melainkan dari dampak yang dirasakan anggota dan masyarakat.
"Saya tidak ingin PWI hanya hidup di dalam sekretariat. PWI harus hadir di tengah rakyat. Ketika masyarakat mengalami kesulitan, PWI harus menjadi salah satu pihak yang bergerak membantu," pungkasnya.