BENGKULU — Warhammer 40,000 atau Warhammer 40K adalah salah satu waralaba fiksi ilmiah bergaya grimdark paling ikonik. Awalnya hanya sebuah permainan tabletop, kini Warhammer 40K telah berkembang menjadi seri novel tebal dan puluhan video game. Lanskap dunianya yang suram, penuh perang kosmik, dan ancaman kegelapan tanpa akhir menjadi ciri khas yang mudah dikenali.
Belakangan, para penggemar mulai menghubungkan elemen-elemen khas Warhammer 40K dengan film horor fiksi ilmiah In the Mouth of Madness (1994) yang dibintangi Sam Neill. Film arahan sutradara John Carpenter ini mengisahkan seorang investigator asuransi yang menyelidiki hilangnya seorang penulis horor populer, lalu perlahan menyadari bahwa realitas mulai runtuh di sekelilingnya. Banyak warganet yang menilai atmosfer film ini sangat mirip dengan pengaruh Chaos—entitas kegelapan di Warhammer 40K.
Teori koneksi ini berawal dari sejumlah adegan di In the Mouth of Madness yang dinilai memiliki estetika serupa dengan dunia Warhammer 40K. Penggemar menyoroti desain monster, penggunaan simbol-simbol aneh, dan narasi tentang kegilaan yang perlahan menguasai tokoh utama. Dalam Warhammer 40K, kekuatan Chaos dikenal mampu merusak pikiran dan realitas para korbannya, sebuah tema yang sangat dominan di film ini.
Selain itu, penggambaran kota kecil yang misterius dan penuh rahasia di film tersebut disebut-sebut mirip dengan dunia-dunia yang dikuasai oleh Chaos di semesta Warhammer. Tak heran jika banyak yang bertanya-tanya apakah John Carpenter sengaja atau tidak sengaja mengambil inspirasi dari waralaba tersebut.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari John Carpenter, Sam Neill, maupun pemegang hak cipta Warhammer 40K (Games Workshop) yang mengonfirmasi adanya hubungan langsung. Film In the Mouth of Madness sendiri merupakan bagian dari trilogi "Apocalypse" John Carpenter yang tidak resmi, bersama The Thing (1982) dan Prince of Darkness (1987). Ketiganya memang kerap mengangkat tema kegilaan dan kehancuran realitas.
Meski begitu, teori ini tetap menarik untuk dibahas. Banyak penggemar yang justru menikmati spekulasi semacam ini karena memperkaya pengalaman menonton dan menunjukkan betapa kuatnya pengaruh estetika Warhammer 40K dalam budaya populer. Apakah koneksi ini disengaja atau sekadar kebetulan, satu hal yang pasti: baik film maupun waralaba tabletop game ini sama-sama berhasil menciptakan dunia yang gelap, kompleks, dan penuh misteri.
Bagi pembaca yang tertarik dengan fiksi ilmiah bergaya horor psikologis, In the Mouth of Madness tetap layak ditonton—terlepas dari benar atau tidaknya teori koneksi dengan Warhammer 40K. Sementara itu, penggemar setia Warhammer 40K mungkin akan menemukan banyak referensi visual dan tematik yang terasa akrab sepanjang film.