Luis de la Fuente Tolak Man-Marking Messi di Final Piala Dunia 2026, Trauma Kenangan 2004

Penulis: Afrizal Hidayat  •  Minggu, 19 Juli 2026 | 23:34:31 WIB
Pelatih Spanyol Luis de la Fuente memberikan keterangan pers menjelang final Piala Dunia 2026 melawan Argentina di Stadion New York New Jersey, Amerika Serikat.

BENGKULU — Spanyol akan berhadapan dengan Argentina di Stadion New York New Jersey, Amerika Serikat, untuk memperebutkan trofi juara dunia. La Furia Roja datang sebagai tim dengan pertahanan terbaik turnamen, hanya kebobolan satu gol sepanjang Piala Dunia 2026.

Kenangan Buruk 15 Menit yang Mengubah Segalanya

De la Fuente mengingat betul momen pertamanya berhadapan dengan Messi saat pemain itu masih berusia 17 tahun dan membela akademi Barcelona. Kala itu, ia nekat menerapkan man-marking kepada bocah asal Rosario tersebut.

"Saat itu semua orang membicarakan seorang bocah bernama Messi. Jadi, kami menerapkan man-marking kepadanya. Hingga menit ke-70 skor masih 0-0," kenang De la Fuente dalam wawancara dengan Sports Illustrated.

Namun, nasib nahas menimpa Sevilla setelah pemain yang ditugaskan mengawal Messi mendapat kartu kuning. De la Fuente menariknya keluar. Hasilnya? Hanya dalam 15 menit, Messi mencetak empat gol. Pelajaran berharga itu kini menjadi dasar keputusannya di laga final nanti.

Argentina Spesialis Gol di 15 Menit Terakhir

Statistik mengonfirmasi kekhawatiran De la Fuente. Dari total 19 gol Argentina sepanjang turnamen, 12 di antaranya lahir pada menit ke-75 atau lebih. Messi berkontribusi langsung dengan empat gol dan tiga assist di fase krusial tersebut.

"Kami tidak akan menerapkan strategi man-mark, tetapi kami akan sangat waspada," tegas juru taktik berusia 65 tahun itu. "Apakah itu artinya kami akan melakukan man-mark? Jawabannya tidak. Apakah kami akan memberikan perhatian ekstra? Ya, tentu saja. Namun dengan cara yang persis sama seperti mereka harus mengawasi para pemain berbahaya kami."

Lamine Yamal dan Oyarzabal Jadi Senjata Balasan Spanyol

De la Fuente menegaskan bahwa pertahanan kolektif adalah kunci. Ia meyakini lini serang Spanyol yang dihuni Lamine Yamal dan Mikel Oyarzabal juga layak diwaspadai Argentina.

"Bisa berada di final adalah sebuah hak istimewa yang luar biasa. Argentina adalah rival hebat dengan rekam jejak yang spektakuler," ujar De la Fuente. "Lionel Scaloni dan saya adalah dua pesaing besar yang saling mengagumi satu sama lain. Sebuah kehormatan bisa menghadapinya."

Batalnya laga Finalissima pada Maret lalu membuat Spanyol kehilangan kesempatan uji coba melawan Messi. Kini, trofi juara dunia dan rekor juara bertahan yang belum diraih sejak Brasil 1962 menjadi taruhan di laga pamungkas nanti.

Reporter: Afrizal Hidayat
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top