Shokz OpenDots Air: Earbuds Clip-On Rp2,1 Juta dengan Suara Open-Ear Solid dan Baterai 9 Jam

Penulis: Afrizal Hidayat  •  Sabtu, 25 Juli 2026 | 09:38:01 WIB

BENGKULU — Setelah menguji Shokz OpenDots Air selama sebulan penuh — mulai dari lari pagi, sesi gym, hingga perjalanan kereta — kami berani mengatakan bahwa earbuds ini adalah pilihan paling rasional di antara produk open-ear clip-on Shokz. Harganya sekitar 25% lebih murah dari OpenDots 2, tetapi performa inti hampir identik.

Desain Ringan, Tapi Bisa Bikin Pegal di Pemakaian Lama

Bobot 6,3 gram per earbuds membuat OpenDots Air nyaris tidak terasa saat dipakai. Bentuk C-clip mengait di lekuk telinga dengan aman, bahkan saat berlari atau bersepeda. Casing pengisi daya hanya 37,3 gram — cukup kecil untuk hilang di saku celana.

Namun, setelah satu jam lebih, beberapa pengguna mungkin merasakan sedikit tekanan di area tulang rawan. Reviewer kami merasakan kelegaan setelah melepasnya usai lari jarak jauh. Ini bukan masalah besar, tapi perlu diingat bagi yang memiliki telinga sensitif.

Kontrol sentuh menjadi titik lemah. Area sentuh sangat kecil dan sering tidak merespon. Kami lebih sering mengandalkan ponsel untuk mengganti lagu. Untungnya, ini tidak mengganggu pengalaman olahraga karena earbuds tetap di telinga.

Suara Open-Ear yang Cukup Memuaskan untuk Olahraga

Dua driver 11,8mm menghasilkan bass yang cukup berdaging untuk ukuran open-ear. Lagu seperti "Beach Cowboy" milik Brian Kelley atau "Superpowers" Kasabian terdengar dengan low-end yang bersih tanpa mendistorsi mid-range. Vokal tetap jelas berkat pemisahan frekuensi yang baik.

Tidak ada dukungan codec Hi-Res seperti LDAC, dan suara tidak akan menyaingi earbud in-ear seharga Rp2 jutaan. Namun untuk kebutuhan fitness — di mana Anda harus tetap sadar lingkungan sekitar — kualitas ini sudah lebih dari cukup. Di luar ruangan, bass sedikit tenggelam oleh kebisingan, tetapi itu wajar untuk semua earbud open-ear.

Sayangnya, fitur seperti Dolby Atmos dan MirrorPitch (pengarah suara) absen di model ini. Shokz hanya menyertakan empat preset EQ dan kustom 5-band lewat aplikasi. Bagi kebanyakan orang, setelan standar sudah terdengar baik.

Fitur Minimalis, Baterai Andal

Baterai 9 jam per pengisian (36 jam total dengan casing) sedikit di bawah OpenDots 2 yang 10 jam, tapi perbedaannya tidak terasa dalam pemakaian sehari-hari. Casing mendukung USB-C, tetapi tidak ada pengisian nirkabel — fitur yang hanya ada di saudaranya yang lebih mahal.

Fitur lain yang hilang: tombol pairing override di casing. Anda harus mengandalkan Bluetooth 6.1 di perangkat. IP55 membuatnya tahan debu dan cipratan air, tapi jangan dipakai berenang.

Aplikasi Shokz cukup ringan. Selain EQ, hanya ada pengaturan multipoint, kontrol sentuh, dan wear detection. Kami hampir tidak membuka aplikasi setelah pengaturan awal.

Harga dan Perbandingan: Lebih Murah dari OpenDots 2, Tapi Banyak Saingan

Dengan harga $129,95, OpenDots Air jelas lebih ekonomis dibanding OpenDots 2 ($199,95) atau OpenFit Pro ($249,95). Bahkan jika Anda menemukan OpenDots One diskon hingga $150, Air tetap unggul dalam hal rasio harga-fitur.

Namun, di luar ekosistem Shokz, ada Soundpeats Clip1 yang dijual sekitar $70 dengan kualitas serupa. Jika Anda tidak terikat dengan merek Shokz, alternatif itu patut dipertimbangkan.

Di Indonesia, OpenDots Air tersedia melalui distributor resmi Shokz. Harganya diperkirakan Rp2,1–2,4 juta tergantung pajak dan ongkos kirim — masih kompetitif untuk segmen open-ear clip-on premium.

Kesimpulan: Untuk Siapa OpenDots Air?

OpenDots Air adalah pilihan tepat bagi Anda yang ingin earbuds open-ear andal untuk olahraga dengan bujet terbatas. Desain ringan, suara yang solid, dan baterai panjang menjadikannya teman latihan yang nyaman. Namun, jika Anda menginginkan fitur lengkap seperti ANC atau kontrol sentuh responsif, atau jika anggaran sangat ketat, ada opsi lain di luar Shokz.

Untuk pengguna yang sudah yakin dengan merek Shokz, ini adalah varian paling masuk akal yang bisa dibeli saat ini.

Reporter: Afrizal Hidayat
Sumber: techradar.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top