BENGKULU — Lockheed Martin resmi memperkenalkan Morfius X-Rotor, sistem counter-drone udara yang dirancang khusus untuk menghadapi serangan swarm. Berbeda dengan rudal atau cannon yang meledakkan satu per satu target, Morfius menggunakan High Power Microwave (HPM) untuk 'memasak' elektronik drone lawan dari jarak dekat. Dalam video demo yang beredar sejak Juli 2026, tiga unit Morfius terlihat lepas landas, mengunci target, lalu melepaskan semburan microwave yang melumpuhkan beberapa drone sekaligus. Namun, belum jelas apakah rekaman tersebut hasil uji coba langsung atau animasi.
Klaim utama Lockheed Martin: satu unit Morfius X-Rotor mampu menetralkan sampai 50 drone musuh dalam satu penerbangan. Sistem ini bersifat ground-launched — diluncurkan dari darat, terbang ke area target, lalu kembali ke titik awal untuk diisi ulang dan digunakan lagi. Karena tidak menggunakan hulu ledak, risiko kerusakan kolateral (collateral damage) bisa ditekan.
Lockheed menyebut sistem ini "the only ground-launched, field-reusable airborne HPM system capable of delivering more than 50 drone kills per flight using any command and control system." Artinya, Morfius bisa diintegrasikan dengan berbagai sistem komando yang sudah ada — tanpa perlu radar atau fire control radar khusus.
Salah satu nilai jual utama Morfius adalah kemampuannya bekerja tanpa ketergantungan pada sensor radar atau panduan tertentu. Di medan perang modern yang penuh gangguan elektronik (Electronic Warfare/EW), sistem yang terlalu bergantung pada radar rentan macet. Morfius justru mengandalkan HPM dan sensor onboard sendiri untuk mendeteksi dan menyerang target.
Lockheed Martin juga menekankan aspek biaya. Dalam pernyataan resminya, seorang VP Lockheed Martin mengatakan bahwa Morfius "represents a new benchmark for counter-drone capability – delivering a high kill rate while keeping the cost per kill low." Biaya per kill yang rendah ini menjadi krusial karena drone musuh bisa diproduksi massal dengan harga murah.
Morfius bukan produk dari nol. Lockheed mengklaim varian Morfius sudah terbang sejak 2017, dan uji lapangan terbaru dilakukan di beberapa negara bagian AS. Sistem ini juga disebut-sebut sejalan dengan "Rapid Response Counter-UAS Roadmap" Kementerian Pertahanan AS periode 2025-2028.
Belum ada informasi harga resmi atau jadwal distribusi ke negara lain. Namun, Lockheed memamerkan sistem ini sebagai solusi portabel dan cepat dikerahkan — ideal untuk unit taktis yang harus menghadapi serangan drone swarm dadakan.
Sistem HPM bukan barang baru. Lockheed punya pesaing seperti Epirus Leonidas — sistem berbasis kendaraan darat yang dalam uji coba tahun lalu berhasil menetralkan 61 dari 61 drone. Ada juga sistem buatan China, TPG1000C, yang disebut berkekuatan 20 gigawatt dan dijuluki "mimpi buruk Starlink".
Yang membedakan Morfius X-Rotor: faktor reusable dan portabel. Sementara sistem lain biasanya dipasang di kendaraan atau stasioner, Morfius bisa diterbangkan ke titik manapun dan digunakan berulang kali. Ini membuatnya cocok untuk misi respons cepat di area yang sulit dijangkau.
Bagi militer atau instansi keamanan yang menghadapi ancaman drone swarm murah-meriah, Morfius X-Rotor menawarkan pendekatan baru: bunuh banyak target dengan satu tembakan microwave, tanpa harus khawatir kehabisan amunisi atau merusak lingkungan sekitar. Lockheed Martin masih merahasiakan jadwal pengiriman ke pelanggan, tapi konsep ini jelas mengubah cara perang drone — dari "satu rudal untuk satu drone" menjadi "satu drone anti-swarm untuk puluhan drone lawan".