BENGKULU — Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite memicu antrean panjang di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Bengkulu pada Rabu (26/8/2026). Gangguan distribusi yang terjadi sejak sehari sebelumnya ini membuat pengendara harus bersabar menunggu giliran untuk mengisi tangki kendaraan mereka.
Pantauan di lapangan menunjukkan antrean kendaraan mengular di beberapa titik, seperti kawasan KM 6,5, KM 8, Tanah Patah, Penurunan, Bumi Ayu, Pagar Dewa, hingga Rawamakmur. Petugas kepolisian tampak diterjunkan untuk mengatur arus lalu lintas di sekitar SPBU agar tidak terjadi kemacetan parah.
Sales Area Manager (SAM) Retail Bengkulu PT Pertamina Patra Niaga, Mochammad Farid Akbar, membenarkan adanya gangguan pasokan pada Selasa (25/8/2026). Ia menjelaskan, kapal pengangkut BBM mengalami kendala saat hendak bersandar di pelabuhan.
“Kemarin hari Selasa ada kendala kapal Pertalite, sehingga kapal baru bisa sandar sekitar jam 11 siang. Penyebabnya karena pengaruh cuaca sehingga kapal terlambat,” kata Farid.
Farid memastikan stok mulai kembali aman sejak Selasa sore setelah kapal berhasil bersandar dan proses penyaluran berjalan. “Dari sore kemarin sudah aman stoknya,” ujarnya. Ia menambahkan, pihaknya akan memperkuat koordinasi serta kesiapan sarana distribusi dari Pelabuhan Pulau Baai hingga ke seluruh SPBU untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Di tengah kelangkaan Pertalite, masyarakat dihadapkan pada harga BBM nonsubsidi yang lebih tinggi. Pertamax disebut-sebut mencapai Rp16.300 per liter, memaksa pengendara yang tidak sabar menunggu antrean untuk mengeluarkan biaya lebih besar.
Agus, seorang pengendara, mengaku kondisi ini cukup memberatkan masyarakat yang setiap hari bergantung pada kendaraan untuk beraktivitas. “Kalau Pertalite sulit didapat, mau tidak mau harus beli yang lebih mahal. Biaya operasional tentu bertambah,” keluhnya.
Sementara itu, Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) memastikan ketersediaan BBM di SPBU Pulau Enggano tetap terjaga. Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Rusminto Wahyudi, menyebut antrean yang sempat terjadi pada Selasa pagi bersifat situasional.
“Antrean yang terjadi bersifat situasional karena adanya peningkatan konsumsi seiring meningkatnya aktivitas masyarakat sehubungan dengan kegiatan sandar kapal penumpang MH Thamrin di Enggano,” ujar Rusminto. Ia mencatat, pengiriman terakhir dilakukan Minggu (23/8) dengan kargo Pertalite 48 kiloliter (KL), Biosolar 16 KL, dan Kerosene 8 KL. Per 25 Agustus, stok Pertalite tercatat sekitar 64,8 KL.
Pertamina mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan panic buying atau pengisian BBM berulang. Warga diminta membeli sesuai kebutuhan dan mengikuti arahan petugas di lapangan agar distribusi dapat berjalan lancar dan merata.