Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Bengkulu mencatat potensi investasi masuk ke Provinsi Bengkulu mencapai Rp473,15 miliar yang tersebar di tiga sektor strategis. Dana tersebut diproyeksikan menggerakkan perekonomian daerah melalui penciptaan lapangan kerja baru dan pemberdayaan UMKM lokal.
KOTA BENGKULU — Sebanyak lima peluang investasi di Provinsi Bengkulu telah dinyatakan siap memasuki tahap penyusunan proposal bisnis hingga 21 Agustus 2026. Kepala Kanwil DJPb Bengkulu Mohamad Irfan Surya Wardhana menyebutkan total nilai investasi yang bakal memutar roda perekonomian daerah mencapai Rp473,15 miliar.
Kelima proyek tersebut tersebar di tiga sektor utama: perindustrian, pertanian, dan pariwisata. DJPb menilai masuknya investasi ini bakal memberikan efek berganda bagi penyerapan tenaga kerja lokal sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan warga.
Dari sisi nominal, sektor perindustrian mendominasi dengan porsi 73 persen dari total keseluruhan nilai investasi. Proyek terbesarnya adalah pembangunan pabrik minyak goreng di Kabupaten Bengkulu Utara yang mencapai Rp345,42 miliar.
Proyek ini menjadi prioritas utama karena dirancang sebagai langkah hilirisasi industri sawit. Tujuannya agar para petani tidak lagi menjual tandan buah segar sebagai bahan mentah, melainkan memperoleh keuntungan lebih dari produk olahan.
Di sektor pertanian, DJPb mencatat adanya pembangunan sistem pertanian terpadu atau integrated nursery farming system di Kabupaten Bengkulu Utara. Proyek senilai Rp95,20 miliar ini diharapkan memperkuat ketahanan bibit dan mendukung praktik pertanian berkelanjutan di daerah tersebut.
Sementara itu, sektor pariwisata menempatkan Pengembangan Laguna Waterpark dan Resort di Kabupaten Kaur sebagai proyek dengan nilai investasi terbesar, yakni Rp19,10 miliar. Proyek ini melengkapi dua destinasi lain yang juga masuk daftar potensi investasi, yaitu pengembangan Wisata Ikan Larangan di Desa Taba Lubuk Puding Kabupaten Seluma senilai Rp7,04 miliar dan Desa Wisata Cemoro Sewu Kungkai Baru di Kabupaten Seluma dengan nilai Rp6,37 miliar.
Irfan menilai komposisi investasi ini mencerminkan perubahan struktur ekonomi daerah yang tidak lagi bergantung pada sektor primer. Menurutnya, pergeseran ke arah hilirisasi komoditas dan pengembangan sektor jasa merupakan sumber pertumbuhan ekonomi baru yang perlu dikawal bersama.
Dengan masuknya proyek-proyek tersebut, ia berharap perekonomian Bengkulu tidak hanya tumbuh dari sisi angka, tetapi juga dirasakan langsung oleh masyarakat melalui lapangan pekerjaan baru dan peningkatan kesejahteraan pelaku usaha kecil.