Performa Bagnaia Jeblok di MotoGP 2026, Ini Akui Kesulitannya

Penulis: Nofrizal Hasan  •  Selasa, 15 September 2026 | 18:33:01 WIB
Pembalap Ducati Lenovo Francesco Bagnaia menjalani sesi balapan MotoGP 2026.

BENGKULU — Bagnaia terakhir kali naik podium tertinggi di balapan utama MotoGP Jepang di Sirkuit Motegi. Sejak itu, posisi terbaiknya hanya finis ketiga sebanyak empat kali, sementara ia tercatat mundur dari balapan tujuh kali, termasuk di balapan utama MotoGP San Marino 2026.

Rekan setimnya di Ducati Lenovo, Marc Marquez, justru sudah mengoleksi lima kemenangan musim ini meski masih bergelut dengan masalah di bahunya. Juara bertahan MotoGP itu tampil konsisten sementara Bagnaia terus mencari bentuk terbaiknya.

Tiga Balapan Tanpa Poin Beruntun

Bagnaia tidak menampik hasil buruk beruntun ini memaksanya menurunkan ekspektasi. Ia mengaku kesulitan di sektor pengereman dan saat menikung, dua elemen yang dulu menjadi kekuatan utamanya.

"Ini adalah nihil poin ketiga saya secara beruntun. Kami bekerja sangat keras dan tim saya melakukan segalanya agar saya nyaman, tapi sayangnya saya tidak bisa mengatasinya dan saya tidak mengerti kenapa," kata Bagnaia dikutip dari Motosan.

"Ada hal-hal yang sudah tidak bisa lagi saya lakukan, terutama pengereman saat masuk tikungan dan menikung. Saya harus menerima kenyataan, mulai dari premis bahwa level saya saat ini ada di posisi sembilan atau sepuluh, dan mulai lagi dari sana. Ada sesuatu yang hilang," tambah dia.

Kesenjangan Pembinaan Pembalap Italia vs Spanyol

Di luar masalah performanya, Bagnaia menyoroti kesenjangan sistem pembinaan pembalap muda antara Italia dan Spanyol. Menurutnya, akses dan biaya menjadi faktor utama yang membuat Spanyol lebih unggul mencetak talenta.

"VR46 Academy sudah berupaya keras dan ada pembalap-pembalap kuat yang berkembang, tapi ada perbedaan besar dalam komitmen dan sumber daya di kategori bawah. Di Spanyol, kamu bisa berlatih dengan motor 600cc atau 1000cc hampir tanpa batasan sejak usia muda; balapan di sana biayanya sangat murah," jelasnya.

"Di Italia, masuk ke sirkuit besar hampir mustahil karena tidak terjangkau semua orang dan kami kekurangan infrastruktur. Itulah kenapa banyak pembalap Italia pergi berlatih di Spanyol, karena kejuaraannya memakai motor yang identik dengan Kejuaraan Dunia dan jadi batu loncatan sempurna," tambah Bagnaia.

Harapan di Sirkuit Austria

Meski tengah terpuruk, Bagnaia mulai menatap seri berikutnya di Austria, sirkuit yang secara historis ramah untuk Ducati sekaligus cocok dengan gaya balapnya. Namun ia tetap realistis, menyebut segalanya bergantung pada apakah kepercayaan dirinya bisa kembali.

"Ini sirkuit yang bagus untuk Ducati dan salah satu yang terbaik untuk saya. Ketika saya merasa nyaman di atas motor, saya berhasil memenangkan balapan dengan selisih signifikan, tapi sekarang semuanya akan tergantung bagaimana perasaan saya saat kami tiba di sana," pungkas Bagnaia.

Yang Perlu Diperhatikan

  • Tiga balapan beruntun tanpa poin menandai periode terburuk Bagnaia sejak bergabung dengan Ducati
  • Masalah utama ada di pengereman masuk tikungan dan menikung, bukan pada kecepatan puncak motor
  • Ducati belum memberikan pernyataan resmi soal akar masalah teknis yang dialami Bagnaia
  • Target realistis yang disebut Bagnaia sendiri (posisi sembilan atau sepuluh) menunjukkan krisis kepercayaan diri yang serius
Reporter: Nofrizal Hasan
Sumber: oto.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top