Pemerintah Provinsi Bengkulu mematangkan program ekstensifikasi kelapa sawit dengan memetakan potensi lahan seluas 6.064,16 hektare di Kabupaten Rejang Lebong. Pemetaan lahan HPL itu menjadi bagian dari dukungan daerah terhadap program ketahanan energi nasional dan pengembangan biodiesel B50. Wakil Gubernur Bengkulu Mian menyatakan produksi CPO provinsi sudah menembus 1,5 juta ton per tahun.
BENGKULU — Rapat koordinasi ground check teknis program ekstensifikasi kelapa sawit digelar di Bengkulu untuk membahas kesiapan lahan sebelum program dilanjutkan. Pemprov Bengkulu menilai potensi lahan di Rejang Lebong cukup besar untuk menopang target pengembangan biodiesel B50.
Wakil Gubernur Bengkulu Mian menegaskan komitmen daerah mendukung ketahanan energi nasional. Menurut dia, ekstensifikasi sawit menjadi salah satu jalur utama dukungan tersebut.
"Sama-sama kita ketahui program prioritas pak presiden terkait dengan ketahanan energi, pengembangan B50. Provinsi Bengkulu sudah mencapai 1,5 juta ton CPO per tahun," kata Mian dalam rapat tersebut.
Pemaparan PTPN IV menyebut potensi lahan seluas 6.064,16 hektare tersebar di sejumlah kecamatan di Kabupaten Rejang Lebong. Rinciannya, Kota Padang 3.229,58 hektare, Sindang Beliti Ulu 993,89 hektare, dan Sindang Beliti Ilir 910,07 hektare.
Dua kecamatan lain, Binduriang dan Sindang Kelingi, menyumbang 930,62 hektare. Lahan-lahan itu merupakan areal HPL yang sebelumnya telah melalui proses pemetaan.
Strategic Advisor PTPN IV Irwan Perangin Angin menjelaskan pemetaan dilakukan untuk memastikan kondisi dan status lahan. Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan instansi terkait di Rejang Lebong.
"Kami sebelumnya mendapatkan potensi ekstensifikasi kelapa sawit sebesar 6.064,16 hektare di Bengkulu yang merupakan areal HPL. Kami juga sudah berkoordinasi dengan kakanwil Rejang Lebong dan memetakan mana kawasan hutan lindung serta kawasan pertambangan," kata Irwan.
Selain produksi CPO, Mian menyoroti capaian program peremajaan kelapa sawit atau replanting di Bengkulu. Program pusat itu dinilai berjalan dengan progres yang signifikan.
"Bengkulu ini juga sukses dalam menjalankan program pusat replanting. Progresnya nomor dua terbaik di Indonesia," ujar dia.
Ground check teknis masih berlanjut untuk memastikan kesesuaian lahan sebelum ekstensifikasi dijalankan. Pemetaan kawasan hutan lindung dan area pertambangan menjadi bagian yang diperiksa agar tidak tumpang tindih dengan peruntukan lain.
Program ekstensifikasi ini menyasar perluasan areal tanam di luar lahan yang sudah produktif. Dukungan terhadap biodiesel B50 menempatkan sawit sebagai komoditas kunci dalam peta energi nasional.