Peri Susanti (43), perajin Kue Talam Piring di Kelurahan Bentiring, Kota Bengkulu, tetap memproduksi panganan tradisional berbahan tepung beras dan santan kelapa itu meski tren kuliner kekinian terus bermunculan. Sejak mulai berjualan pada 2011, dia bertahan dengan menjaga rasa dan kualitas sebagai kunci kepercayaan pelanggan. Selama tujuh tahun terakhir, Peri membuka lapak sendiri setelah sebelumnya berkeliling dengan berjalan kaki dan sepeda motor.
BENGKULU — Kue Talam Piring dibuat dari tepung beras yang dipadukan dengan santan kelapa, gula merah, dan sari daun pandan. Adonan dikukus hingga matang dalam wadah piring seng jadul, menghasilkan dua lapisan berwarna cokelat dan hijau yang disusun bergantian.
Lapisan cokelat berasal dari perpaduan gula merah, sedangkan lapisan hijau dari sari daun pandan. Sebagian pengrajin menambahkan sedikit vanili untuk memperkuat cita rasa. Perpaduan bahan itu menghasilkan tekstur lembut dengan rasa manis dan gurih yang khas.
Daya tahan kue ini sekitar satu hari satu malam. Sifatnya yang tidak tahan lama membuat perajin mesti menghitung produksi harian agar tidak ada sisa dagangan.
Perjalanan 15 Tahun Peri Susanti Berjualan Kue Talam
Peri memulai usaha Kue Talam pada 2011. Awalnya dia berjualan berkeliling dengan berjalan kaki, lalu beralih menggunakan sepeda motor. Baru tujuh tahun terakhir dia bisa membuka lapak sendiri di Kelurahan Bentiring.
"Sejak tahun 2011 dan sudah 15 tahun berjualan kue talam, baru tujuh tahun buka lapak, sisanya berjualan jalan keliling lalu pakai kendaraan motor," kata Peri.
Selama belasan tahun itu, berbagai makanan kekinian dan jajanan viral silih berganti muncul di Kota Bengkulu. Peri mengaku tetap memilih membuat dan menjual kuliner khas Bengkulu tersebut.
Rasa dan Kualitas Jadi Kunci Bertahan di Tengah Tren Kuliner Baru
Untuk bertahan, Peri menjaga kepercayaan pelanggan melalui rasa dan kualitas Kue Talam yang dibuatnya. Dia tidak ingin perubahan tren makanan membuat cita rasa panganan yang dijualnya ikut berubah.
Pilihan itu sejalan dengan cara panganan tradisional Bengkulu mempertahankan tempatnya di tengah masyarakat. Olahan berbasis tepung beras, santan, dan gula merah ini masih dicari pelanggan setia yang mengenalnya sejak lama.
Kue Talam Piring juga menjadi bagian dari khazanah kuliner Nusantara yang diwariskan turun-temurun. Resepnya tidak berubah banyak, hanya variasi kecil seperti penambahan vanili yang dilakukan sebagian perajin.
Kue Talam Piring dan Posisinya di Pasar Kuliner Bengkulu
Kehadiran jajanan kekinian tidak serta-merta menggeser panganan tradisional di Kota Bengkulu. Perajin seperti Peri tetap memiliki pasar sendiri, terutama pelanggan yang mencari rasa warisan budaya.
Usaha yang dirintis dari berkeliling kini berjalan dari lapak tetap di Kelurahan Bentiring. Peri masih memproduksi kue talam dengan cara dikukus dan dijual dalam piring seng, mempertahankan bentuk penyajian yang sudah dikenal pelanggannya.
Bagi perajin, bertahan di bisnis kuliner tradisional berarti konsisten pada resep dan proses. Tren bisa berganti tiap tahun, tetapi pelanggan Kue Talam Piring kembali karena rasa yang tidak berubah.