BENGKULU — Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menyalahkan pemimpin diktator atas lonjakan harga bensin dalam pidato kampanye politik di Mississippi. Pernyataan itu langsung dibandingkan warganet dengan kebijakan Presiden Donald Trump, terutama saat perang dengan Iran ikut menekan biaya bahan bakar. Perdebatan muncul menjelang pemilihan paruh waktu AS pada 3 November.
Pidato kampanye Vance di Mississippi menyentuh dua isu yang paling dirasakan rumah tangga Amerika: harga bensin dan inflasi. Ia mengakui keduanya masih menjadi sumber keresahan publik, lalu menuding faktor eksternal sebagai pemicu utama.
"Sekarang Anda akan mendengar ... banyak orang mengatakan bahwa harga bensin terlalu tinggi, bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk memperbaiki inflasi buruk pada era Biden, inflasi tertinggi yang kita lihat dalam 50 tahun di negara kita, dan saya memahami hal itu. Saya setuju," kata Vance dalam pidatonya.
Vance menarik garis lurus antara konflik global dan harga energi di dalam negeri. Ia menyinggung lonjakan bensin setelah Rusia melancarkan perang terhadap Ukraina pada 2022, lalu membandingkannya dengan kenaikan pada 1979, 2001, dan 2007.
"Harga-harga itu melonjak setiap kali ada diktator kelas teri yang memutuskan untuk mengamuk. Namun, kita harus ingat bahwa solusi Partai Demokrat untuk masalah ini adalah mengeluh dan membangun beberapa kincir angin," ujarnya.
Potongan pidato itu menyebar cepat di media sosial. Sejumlah pengguna menilai logika Vance bisa berbalik menyerang pemerintahan sendiri, karena harga bahan bakar di Amerika Serikat justru meningkat di tengah perang dengan Iran.
Kritik tersebut bukan tanpa dasar. Bagi konsumen Amerika, biaya pengisian bahan bakar adalah pengeluaran harian yang paling mudah diukur, sehingga setiap kenaikan langsung terasa di kantong dan cepat masuk ke percakapan politik.
Pemimpin Minoritas Demokrat di Senat AS Chuck Schumer turut mengomentari pernyataan Vance melalui platform X. Sindirannya singkat, tetapi cukup menggambarkan nada perdebatan yang berlangsung.
"Hal paling benar yang dikatakan @JDVance dalam waktu yang sangat, sangat lama," tulis Schumer.
Perdebatan ini memperlihatkan bagaimana isu energi bergeser dari urusan teknis menjadi komoditas politik. Kenaikan harga bensin di Amerika Serikat menjadi sorotan menjelang pemilihan paruh waktu pada 3 November.
Tekanan ekonomi yang dihadapi rumah tangga Amerika, khususnya biaya bahan bakar, membuat pernyataan pejabat soal penyebab kenaikan harga mudah diperiksa publik. Setiap klaim akan diuji dengan angka di pompa bensin, bukan hanya retorika di panggung kampanye.