Pencarian

Buku "Cyberselfish" Paulina Borsook Kembali Terbit, Kritik 25 Tahun Silicon Valley

Senin, 26 Oktober 2026 • 15:49:31 WIB
Buku
Buku "Cyberselfish" karya Paulina Borsook kembali dicetak ulang oleh penerbit Tin House setelah lama tak beredar.

BENGKULU — Buku "Cyberselfish" karya Paulina Borsook yang pertama kali terbit pada 2000 kembali dicetak ulang oleh penerbit Tin House setelah bertahun-tahun tak lagi beredar. Edisi baru itu hadir dengan pengantar dari penulis "Nerd Reich", Gil Durán, yang menyebut Borsook telah memperingatkan soal arah industri teknologi sejak seperempat abad lalu.

Borsook menulis "Cyberselfish" sebagai catatan perjalanan intelektualnya memahami pengaruh libertarianisme teknologi terhadap budaya Silicon Valley. Ia menyebut paham itu sebagai "seperangkat keyakinan" yang keras menolak regulasi, meski menurutnya tidak ada sektor masyarakat yang lebih diuntungkan pemerintah dibanding para pelaku teknologi.

Mengapa Buku Lama Ini Dicetak Ulang

Selama bertahun-tahun setelah terbit pertama, "Cyberselfish" nyaris tak terdengar gaungnya. Borsook mengaku tidak pernah menulis buku kedua karena setelah rilis awal, tak ada lagi pihak yang tertarik pada pandangannya soal teknologi maupun topik lain.

Namun pada tahun lalu, ia mulai memperhatikan harga salinan bekas bukunya merangkak naik. Muncul pula unggahan di media sosial dari orang-orang yang tak ia kenal, membahas betapa pentingnya buku tersebut, disusul ketertarikan sejumlah akademisi Eropa.

Perhatian itu berujung pada liputan media dan akhirnya edisi baru dari Tin House. Durán, yang menulis pengantar, sebelumnya menyatakan bahwa sudah waktunya karier Borsook dihidupkan kembali karena ia "melihat semuanya dengan sangat jelas dan mencoba memperingatkan kita 25 tahun lalu".

Awal Mula Pengamatan Borsook

Ketertarikan Borsook bermula saat ia berkeliling lingkaran teknologi di Bay Area sejak pertengahan 1980-an. Memasuki awal 1990-an, ia mulai mendengar celetukan ganjil dari sejumlah orang yang tak bisa ia pahami maksudnya.

Ia tumbuh di Pasadena, lingkungan program antariksa Caltech-JPL, dan sempat mengira Silicon Valley hanyalah budaya sains-teknologi lain yang serupa. Kenyataannya berbeda. Para insinyur di Caltech dan JPL, katanya, paham betul peran pemerintah, tidak mengagung-agungkan diri, dan tidak memeluk paham kepentingan pribadi yang tercerahkan.

Kebingungan itu yang mendorongnya menulis. Agennya menyarankan buku nonfiksi setelah Borsook menyelesaikan MFA di Columbia, dan ia pun menelusuri subkultur yang tidak ia mengerti itu.

Kritik atas Mentalitas Industri Teknologi

Borsook menilai sikap anti-regulasi di Silicon Valley tetap bertahan bahkan setelah kehancuran dot-com. Menurutnya, sikap itu terus menyebar tanpa pernah dikoreksi, "merembes dan mencemari" lingkungan sekitarnya.

Ia juga menyoroti bahwa sebagian besar tulisan soal industri teknologi pada era 1990-an, dan bahkan setelahnya, bersifat merayakan. Jarang ada yang berhenti dan bertanya apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Dalam wawancaranya, Borsook juga membahas kecerdasan buatan, perubahan Silicon Valley dalam 25 tahun terakhir, dan saran bagi anak muda yang ingin berkarier di bidang teknologi.

Posisi di Tengah Gelombang Kritik Baru

Kembalinya "Cyberselfish" terjadi saat kritik terhadap kekuatan industri teknologi makin lantang, dari isu privasi hingga dominasi platform. Pembaca baru yang mencari penjelasan mengapa industri ini "kehilangan arah" menemukan argumen Borsook masih relevan.

Tin House menerbitkan edisi baru itu setelah buku tersebut lama tak lagi dicetak. Bagi Borsook, penerbitan ulang ini menutup jeda panjang ketika gagasannya sempat tenggelam, jauh sebelum diskusi soal etika teknologi menjadi arus utama.

Follow bengkulutime.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: techcrunch.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks