Gelar Simposium Nasional di Bengkulu, IDAI Soroti Urgensi Penanganan Kegawatdaruratan Anak demi Visi 2045

Penulis: Redaksi  •  Senin, 09 Februari 2026 | 09:46:02 WIB
Tenaga medis dari seluruh Indonesia berkumpul di Bengkulu dalam Simposium Nasional IDAI untuk tingkatkan layanan kesehatan anak.

BENGKULU – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang Bengkulu menyelenggarakan Simposium Nasional di Hotel Mercure Bengkulu pada Sabtu (7/2/2026). Forum ilmiah yang diikuti oleh 140 tenaga medis dari berbagai penjuru tanah air ini difokuskan pada peningkatan kualitas layanan kesehatan anak, khususnya dalam menghadapi situasi kegawatdaruratan.

Ketua Panitia Pelaksana, dr. Laila Fitri Rahmi, menjelaskan bahwa agenda ini merupakan wadah strategis bagi dokter spesialis anak, dokter umum, dan tenaga kesehatan lainnya untuk memperbarui keilmuan serta berbagi pengalaman klinis di lapangan.

Tantangan Kesehatan Anak di Bengkulu

Urgensi pelaksanaan simposium ini disoroti tajam oleh Ketua IDAI Cabang Bengkulu, dr. Jumnalis. Ia memaparkan data keprihatinan terkait kondisi kesehatan anak di Provinsi Bengkulu yang masih berada di bawah angka rata-rata nasional.

Berdasarkan data Kemenkes RI tahun 2023, perbandingannya adalah sebagai berikut:

Kategori KematianRata-Rata NasionalProvinsi Bengkulu
Kematian Bayi6,85 per 1.000 KH19,73 per 1.000 KH
Kematian Balita19,83 per 1.000 KH23,38 per 1.000 KH

"Melihat angka yang masih tinggi ini, IDAI Bengkulu berkomitmen penuh untuk berkontribusi dalam menurunkan tingkat kematian bayi dan balita, sekaligus mendukung target dunia dalam Sustainable Development Goals (SDGs) 2030," tegas dr. Jumnalis.

Sinergi Menuju Indonesia Emas 2045

Senada dengan hal tersebut, Sekjen PP IDAI, dr. Hikari Ambaran Syakti, mengingatkan bahwa kunci keberhasilan penanganan kesehatan anak terletak pada deteksi dini dan kolaborasi lintas disiplin ilmu. Sinergi antara tim medis, pemerintah, dan pemangku kepentingan menjadi mutlak diperlukan.

Gubernur Bengkulu melalui Asisten I Setda Provinsi, Khairil Anwar, yang membuka acara secara resmi, turut memberikan catatan penting mengenai ancaman penyakit kronis pada anak di usia dini. Fenomena ini dinilai dapat menghambat kualitas sumber daya manusia dalam menyongsong bonus demografi dan visi Indonesia Emas 2045.

"Kami berharap simposium ini tidak berhenti pada pembahasan kuratif saja, namun juga melahirkan rekomendasi nyata dalam upaya pencegahan dan edukasi pola hidup sehat bagi masyarakat," ujar Khairil Anwar.

Acara ditutup dengan prosesi penyerahan simbolis komitmen dukungan dari IDAI Cabang Bengkulu kepada Pemerintah Provinsi Bengkulu, sebagai tanda dimulainya langkah kolaboratif yang lebih intensif demi masa depan anak-anak di Bumi Rafflesia.

Reporter: Redaksi
Back to top