BENGKULU — Mata uang rupiah memasuki zona terlemah dalam sejarahnya pada perdagangan pagi ini, turun 0,43% ke level Rp17.480 per dolar AS saat pembukaan pasar, dilanjutkan pelemahan lebih dalam hingga Rp17.500 per dolar pada pukul 09.15 WIB, berdasarkan data Refinitiv. Sementara itu, indeks dolar global (DXY) menguat 0,21% ke posisi 98,115, mencerminkan pelarian investor ke aset denominasi dolar di tengah ketidakpastian geopolitik.
Pemicu utama pelemahan rupiah adalah pernyataan Presiden Donald Trump bahwa negosiasi gencatan senjata dengan Iran kini berada di "ujung tanduk" setelah Teheran menolak proposal Washington. Respons keras Trump—mengatakan tuntutan Iran "sama sekali tidak dapat diterima"—sinyal bahwa eskalasi konflik tetap mungkin terjadi, membuat pasar risk-off dan investor masuk ke dolar sebagai safe haven.
Iran menuntut sejumlah kondisi yang sulit diterima Washington, termasuk penghentian konflik di semua front (termasuk Lebanon), kompensasi atas kerusakan perang, pencabutan blokade laut AS, jaminan tidak ada serangan lanjutan, serta pemulihan ekspor minyaknya yang penuh. Teheran juga menegaskan kontrol penuh atas Selat Hormuz—jalur strategis yang membawa sekitar 20% pasokan minyak dan gas global setiap tahunnya. Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf memperingatkan bahwa militer negara itu siap merespons setiap agresi.
Ketegangan ini mendorong harga minyak Brent Crude naik lebih dari 3%, menembus level $104 per barel. Arus kapal melalui Selat Hormuz menyusut drastis, memaksa produsen mengurangi ekspor dan menambah kekhawatiran pasokan global. Bagi Indonesia sebagai importir neto minyak, setiap kenaikan harga energi meningkatkan beban defisit neraca perdagangan dan tekanan pada rupiah jangka menengah.
Guncangan ini terjadi bersamaan dengan peluncuran sanksi baru AS terhadap pihak-pihak yang membantu Iran mengekspor minyak ke China, langkah yang semakin menutup saluran transaksi Iran dan memperdalam isolasi ekonomi. Survei internal Washington menunjukkan dua dari tiga warga Amerika menilai Trump belum menjelaskan tujuan perang dengan cukup jelas, mencerminkan kebingungan domestik di tengah krisis.
Presiden Trump dijadwalkan bertemu Presiden Xi Jinping di Beijing pada hari Rabu untuk membahas berbagai isu bilateral, dengan Iran diperkirakan menjadi salah satu agenda utama. Hasil pertemuan ini berpotensi mengubah dinamika konflik dan sentimen pasar terhadap emerging markets, termasuk Indonesia.
Fakta Singkat:
Bagi investor dan pelaku bisnis Indonesia, pelemahan rupiah berlanjut akan menambah beban impor bahan baku dan energi, sekaligus meningkatkan daya tarik ekspor manufaktur. Namun, ketidakpastian geopolitik ini tetap menjadi risiko downside untuk aktivitas bisnis di pasar emerging dalam jangka pendek.