SELUMA — Di balik akses menuju desa yang hanya bisa ditempuh menggunakan mobil dobel gardan atau sepeda motor trail, semangat berkurban warga Talang Empat justru mencapai puncaknya. Dari total 220 Kepala Keluarga (KK) yang mendiami desa terisolir tersebut, mereka mengumpulkan 19 hewan kurban pada Idul Adha tahun ini.
Jumlah itu terdiri dari sembilan ekor sapi dan sepuluh ekor kambing. Angka ini menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah desa, mengalahkan capaian tahun-tahun sebelumnya yang rata-rata hanya belasan ekor.
Peningkatan drastis jumlah hewan kurban ini tidak terlepas dari membaiknya perekonomian masyarakat. Mayoritas warga Talang Empat berprofesi sebagai petani kopi. Sepanjang 2025 hingga 2026, harga kopi di tingkat petani melonjak drastis dari Rp 40 ribu menjadi Rp 75 ribu per kilogram.
Kenaikan harga tersebut langsung berdampak pada pendapatan harian warga. Alhasil, kemampuan finansial untuk membeli hewan kurban pun ikut terdongkrak. Tradisi berkurban yang sebelumnya mungkin terasa berat, kini mulai bisa dijalani lebih banyak keluarga.
Meski secara ekonomi mulai membaik, infrastruktur jalan menuju Desa Talang Empat masih menjadi pemandangan yang kontras. Jalan utama desa rusak berat, berlumpur, dan sulit dilalui kendaraan biasa, terutama saat musim hujan. Warga harus bergantung pada kendaraan roda empat berpenggerak ganda atau sepeda motor trail untuk keluar-masuk desa.
Tantangan akses ini tidak menyurutkan semangat warga untuk menjalankan ibadah kurban. Bahkan, tren jumlah hewan kurban di desa tersebut terus menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun.
Tokoh agama Desa Talang Empat, Abdul Latif, SPdI, membenarkan adanya peningkatan signifikan jumlah hewan kurban tahun ini. Ia menyebut ada dua faktor utama yang mendorong lonjakan tersebut.
"Ini seiring dengan peningkatan ekonomi dan ketakwaan masyarakat kita di sini. Kami tentu sangat bersyukur dan gembira dengan kondisi ini," ujar Abdul Latif yang juga merupakan pengurus Ranting Muhammadiyah di desa tersebut, saat dikonfirmasi Radar Seluma.
Menurutnya, berkah kenaikan harga kopi tidak hanya dirasakan secara materi, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial dan spiritual warga. Hewan kurban yang terkumpul nantinya akan didistribusikan kepada seluruh warga, termasuk mereka yang tinggal di pelosok desa dengan akses paling sulit.