BENGKULU — Berdasarkan data pasar yang dihimpun hingga pukul 09.38 WIB, rupiah kembali tertekan oleh penguatan dolar AS. Kondisi ini membuat spread antara kurs jual dan beli di bank-bank nasional menjadi perhatian utama, terutama bagi importir yang membutuhkan dolar untuk pembayaran dan eksportir yang hendak mengkonversi penerimaan valas ke rupiah.
Bank Central Asia (BCA), Bank Mandiri (BMRI), dan Bank Negara Indonesia (BBNI) telah merilis kurs indikasi untuk transaksi valas hari ini. Perbedaan harga jual dan beli antar instrumen—e-Rate, TT Counter, hingga Bank Notes—menunjukkan biaya transaksi yang harus ditanggung nasabah.
Berikut rincian kurs dolar AS di masing-masing bank per pukul 09.38 WIB:
BCA
Bank Mandiri (BMRI)
Catatan: Kurs khusus Mandiri untuk nominal di atas USD 25.000 dapat diperoleh dengan menghubungi cabang.
Bank Negara Indonesia (BBNI)
Selisih kurs (spread) yang lebar di instrumen TT Counter dan Bank Notes—mencapai Rp 250 hingga Rp 300—menjadi beban tambahan bagi pelaku bisnis yang melakukan transaksi tunai. Sebaliknya, transaksi elektronik melalui e-Rate BCA menawarkan spread lebih sempit, hanya Rp 20, sehingga lebih efisien untuk pembayaran rutin bernilai kecil hingga menengah.
Bagi korporasi dengan transaksi di atas USD 25.000, skema Special Rate di BCA memberikan spread Rp 30, lebih kompetitif dibandingkan TT Counter reguler. Ini penting dicatat oleh bendahara perusahaan yang mengelola arus kas valas harian.
Fenomena divergensi antara pasar saham dan valuta asing ini umum terjadi ketika aliran modal asing masuk ke pasar saham (equity) namun tidak cukup kuat untuk menopang rupiah di pasar spot. Penguatan dolar AS secara global masih menjadi faktor dominan yang menekan mata uang emerging market, termasuk rupiah.
Pelaku pasar disarankan untuk memantau kurs acuan di masing-masing bank secara real-time, karena angka indikasi dapat berubah sewaktu-waktu selama jam perdagangan. Untuk transaksi bernilai besar, konfirmasi langsung ke cabang bank tetap menjadi langkah yang paling akurat.