BENGKULU — Pemerintah Vietnam mengerahkan personel dan kendaraan evakuasi ke distrik-distrik rawan di sepanjang Sungai Merah, Hanoi, sejak akhir pekan lalu. Langkah ini diambil setelah permukaan air di stasiun pemantau Long Bien melampaui ambang bahaya, menyusul curah hujan ekstrem yang dibawa Topan Nomor 3. Otoritas setempat mencatat ketinggian air saat ini merupakan yang tertinggi sejak banjir besar tahun 2008.
Dalam 80 tahun terakhir, Sungai Merah mencatat setidaknya empat episode banjir dahsyat yang mengubah kebijakan pengelolaan air Vietnam. Banjir Agustus 1945 menjadi yang pertama dalam catatan modern: tanggul di distrik Vinh Bao, Hai Phong, jebol tepat saat Perintah Militer No. 1 dikeluarkan dari pangkalan Tan Trao. Puncak air di Long Bien mencapai 12,68 meter pada 19 Agustus 1945, merendam 312.000 hektar lahan pertanian dan menyebabkan kerugian setara 14,3 juta ton beras.
Dua dekade kemudian, banjir 1971 dinilai sebagai yang terparah dalam 250 tahun di Vietnam Utara. Pada 20 Agustus 1971, ketinggian air di Hanoi mencapai 14,13 meter—2,63 meter di atas level peringatan tertinggi. Lebih dari 200.000 hektar sawah musnah total, 62 perusahaan pusat dan 122 perusahaan lokal berhenti berproduksi. Data resmi mencatat 594 orang tewas, dan kerugian material saat itu setara lebih dari 13.000 miliar VND jika dikonversi ke kurs 2023.
Banjir 2008 berbeda karakter: bukan karena luapan sungai, melainkan hujan tak musiman terberat dalam seabad yang melumpuhkan Hanoi. Mulai malam 30 Oktober hingga 4 November 2008, ibu kota berubah menjadi lautan air. Tujuh belas orang tewas, hampir 13.000 rumah tangga di sepanjang tanggul terendam, dan butuh lima hari bagi kota untuk pulih. Kerugian awal diperkirakan 3.000 miliar VND.
Sungai Merah, yang juga disebut Sungai Induk, telah lama menjadi sumber kehidupan sekaligus ancaman bagi peradaban Delta Utara. Jenderal Nguyen Quang Bich, dalam puisi "Hong Giang" yang ditulis selama gerakan Can Vuong, menggambarkan sungai ini sebagai "hamparan air yang panjang, keruh dan halus seperti lumpur." Deskripsi itu, menurut sejarawan, sangat akurat menggambarkan air coklat kemerahan yang meluap pada puncak musim banjir.
Banjir 2024 saat ini, meski belum mencapai level 1971, telah memicu evakuasi massal di Hanoi. Pemerintah provinsi Lao Cai dan daerah hulu lainnya juga melaporkan banjir bandang akibat meluapnya anak Sungai Thao. Sistem tanggul yang dibangun pasca-1971 diuji kembali, sementara warga di zona merah diungsikan ke tenda-tenda darurat yang didirikan di dataran lebih tinggi.
Delta Sungai Merah, yang membentang dari Hanoi hingga Teluk Tonkin, merupakan lumbung padi utama Vietnam. Setiap banjir besar tidak hanya mengancam jiwa, tetapi juga produksi beras nasional. Data historis menunjukkan sejak 1901, delta ini mengalami hampir 30 banjir besar. Banjir 1971, misalnya, menghancurkan total 200.000 hektar sawah—area yang cukup untuk memberi makan jutaan orang selama satu musim panen.
Otoritas pengelolaan air Vietnam kini menghadapi dilema klasik: antara mempertahankan tanggul yang menua dan mengantisipasi pola cuaca yang semakin ekstrem. Banjir 2024 menjadi ujian bagi sistem peringatan dini dan kesiapan evakuasi yang di