ARGAMAKMUR — Ancaman kepunahan Bahasa Enggano menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara. Di era modernisasi, bahasa asli masyarakat Pulau Enggano ini mulai ditinggalkan penuturnya akibat derasnya arus teknologi dan pergeseran pola komunikasi.
Bupati Bengkulu Utara, Arie Septia Adinata, menggelar pertemuan dengan jajaran Balai Bahasa Provinsi Bengkulu di ruang kerjanya pada Kamis (11/6/2026). Pertemuan itu difokuskan pada penyusunan strategi revitalisasi dan pelestarian bahasa yang berada di pulau terluar tersebut.
Tantangan terbesar, menurut Arie, datang dari modernisasi. Perubahan gaya hidup, pesatnya perkembangan teknologi, dan pergeseran cara masyarakat berkomunikasi membuat Bahasa Enggano semakin jarang digunakan dalam keseharian.
“Tantangannya adalah di era modernisasi, perkembangan teknologi dan perubahan pola komunikasi masyarakat. Kondisi ini tentu menjadi perhatian bersama dan harus segera diantisipasi melalui langkah-langkah nyata agar bahasa tersebut tetap ada,” ujar Arie.
Pemerintah daerah tidak tinggal diam. Sejumlah langkah darurat telah dirancang untuk menyelamatkan Bahasa Enggano dari kepunahan.
Bupati Arie menegaskan bahwa upaya pelestarian ini bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan keharusan budaya. Bahasa daerah, menurutnya, menyimpan nilai sejarah yang tidak bisa digantikan oleh apa pun.
“Bahasa Enggano merupakan kekayaan budaya yang tidak ternilai harganya. Jika bahasa ini hilang, maka kita juga akan kehilangan sebagian identitas dan sejarah masyarakat Enggano yang diwariskan secara turun-temurun,” tegasnya.
Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara berencana melanjutkan koordinasi dengan Balai Bahasa untuk memastikan program revitalisasi berjalan tepat sasaran. Pelibatan komunitas adat dan tokoh masyarakat Enggano juga akan menjadi prioritas agar pelestarian bahasa tidak berhenti di tingkat birokrasi.