BENGKULU — Suharto menegaskan bahwa kebebasan berpendapat yang dijamin konstitusi harus dijalankan dengan tanggung jawab, tanpa menghilangkan rasa hormat kepada pemimpin dan lembaga negara. Menurut politikus Gerindra itu, perbedaan pandangan politik tidak boleh menjadi alasan untuk melontarkan hinaan atau kata-kata yang merendahkan martabat orang lain.
“Demokrasi memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan kritik dan masukan kepada pemerintah. Namun kritik harus disampaikan secara santun dan konstruktif, bukan dengan hinaan, caci maki, atau kata-kata yang merendahkan martabat orang lain,” ujar Suharto, Minggu (14/6/2026).
Ia menambahkan bahwa Presiden Republik Indonesia adalah kepala negara yang dipilih secara sah melalui proses demokrasi. Karena itu, rasa hormat kepada presiden dan institusi negara harus tetap dijaga, meskipun terdapat perbedaan pendapat.
Suharto memberikan perhatian khusus kepada generasi muda Bengkulu. Ia meminta mereka menggunakan media sosial sebagai sarana berbagi gagasan dan solusi bagi persoalan bangsa, bukan untuk menyebarkan narasi yang memecah belah.
“Generasi muda harus menjadi contoh dalam berkomunikasi. Gunakan media sosial untuk menyampaikan ide dan kritik yang cerdas, beradab, serta memberikan manfaat bagi masyarakat,” tegasnya.
Suharto mengaku prihatin dengan munculnya pernyataan yang mengandung unsur penghinaan dan berpotensi menimbulkan ketegangan. Menurutnya, bahasa yang merendahkan tidak akan memberikan manfaat bagi demokrasi yang sehat.
“Mari kita jaga Bengkulu tetap damai, sejuk, dan kondusif. Persatuan adalah modal utama untuk membangun daerah dan mewujudkan Indonesia yang lebih maju,” pungkasnya.