KOTA BENGKULU — Sampah organik seperti sisa makanan dan limbah dapur selama ini masih menjadi masalah utama di Kota Bengkulu. Alih-alih berakhir di TPA, Pemkot kini mendorong warga mengolahnya menjadi pakan maggot yang bernilai jual.
Program ini dicanangkan secara bertahap, dimulai dari sembilan kecamatan di wilayah tersebut. “Ke depan, sesuai arahan Wali Kota Bengkulu, kami berharap budi daya maggot dapat hadir di seluruh kecamatan. Bahkan setiap kelurahan nantinya diharapkan memiliki tempat budi daya maggot sebagai bagian dari gerakan pengelolaan sampah organik,” kata Kepala DLH Kota Bengkulu Ansar Amin, Rabu.
Maggot atau larva lalat hitam (Black Soldier Fly) dikenal mampu mengurai sampah organik dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Hasil budi daya ini pun bisa dijual sebagai pakan ternak alternatif, terutama untuk ikan lele dan unggas.
“Padahal, jika dipilah dan dikelola dengan baik, sampah tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pakan bagi maggot yang memiliki nilai jual,” ujar Ansar.
Program ini tidak hanya menyasar kebersihan lingkungan. Pemkot Bengkulu juga melihat potensi ekonomi dari hasil penjualan maggot yang bisa menjadi sumber pendapatan baru bagi warga.
DLH Kota Bengkulu berencana menggandeng kelompok masyarakat dan komunitas lingkungan yang selama ini aktif dalam pengelolaan sampah. “Kami berharap dengan adanya budi daya maggot dapat terciptanya sistem pengelolaan sampah organik yang lebih efektif, berkelanjutan, dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat serta lingkungan,” kata Ansar.
Pemkot akan memulai program ini melalui tahap uji coba dan pengembangan. Target utamanya adalah mengolah sampah organik lebih dekat dengan sumbernya, sehingga volume sampah yang dikirim ke TPA bisa ditekan secara signifikan.
Dengan pendekatan ini, setiap kelurahan di Kota Bengkulu diharapkan mampu mengelola sampah organik secara mandiri. Langkah ini juga sejalan dengan upaya pemerintah daerah menuju pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.