BENGKULU SELATAN — Bupati Bengkulu Selatan, Rifai Tajuddin, turun langsung ke lokasi bersama jajaran BPBD untuk memantau titik kritis abrasi di Desa Maras. Dua unit alat berat jenis ekskavator kini disiagakan penuh untuk membelah bentangan sungai dan membuka jalur aliran baru.
Penanganan taktis ini merupakan hasil koordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera VII. Pengerukan dan pengalihan arus sungai dilakukan untuk memindahkan tekanan air yang selama ini menghantam tebing jalan desa.
Posisi abrasi di Desa Maras dinilai semakin kritis. Kikisan air tidak hanya mengancam badan jalan sebagai akses transportasi utama warga, tetapi juga membahayakan permukiman dan jaringan infrastruktur listrik di sekitarnya.
Jika terlambat dimitigasi, perubahan arus sungai berpotensi memicu pergeseran struktur tanah di beberapa titik hilir yang kondisinya mulai labil. Dampak lanjutan juga dikhawatirkan mengganggu kestabilan Bendungan Air Nipis yang berada di bagian hilir.
Bupati Rifai Tajuddin menegaskan bahwa pengerahan alat berat dan pengalihan arus sungai merupakan langkah taktis sementara. Pemerintah daerah tengah menunggu realisasi pembangunan fisik permanen dari pemerintah pusat.
“Fokus kita sekarang adalah mencegah agar abrasi tidak semakin meluas dan mengancam permukiman warga,” ujar Rifai Tajuddin dalam keterangannya di lokasi.
Sebagai solusi jangka panjang, Pemkab Bengkulu Selatan telah melayangkan usulan resmi ke pemerintah pusat untuk pembangunan struktur pengaman tebing permanen. Rencananya, bantaran sungai akan diperkuat dengan konstruksi beton guna menahan risiko erosi tahunan.
Selama proses pengerjaan pengalihan arus berlangsung, tim reaksi cepat dari BPBD Bengkulu Selatan bersama BWS Sumatera VII tetap disiagakan di lokasi. Monitoring berkala terhadap fluktuasi debit air sungai akan terus dilakukan.
“Pemerintah akan terus hadir di lapangan dan memastikan penanganan dilakukan sampai kondisi benar-benar aman bagi masyarakat,” tutup Rifai.