BENGKULU — Anthropic, perusahaan AI yang mengembangkan chatbot Claude, secara resmi memperbarui kebijakan privasinya dengan menambahkan klausul verifikasi identitas. Dalam aturan terbaru yang dipublikasikan pertengahan Juni lalu dan efektif per 8 Juli, perusahaan mengatakan akan meminta pengguna membuktikan usia atau identitas mereka "dalam keadaan tertentu."
Saat sistem Anthropic memicu verifikasi, pengguna diminta mengunggah pindaian paspor atau SIM yang diterbitkan pemerintah. Tak hanya itu, perusahaan juga mengumpulkan foto selfie atau video, plus template geometri wajah yang diubah menjadi data digital.
Data wajah ini masuk kategori biometrik yang dilindungi hukum di beberapa negara bagian AS, seperti Illinois. Anthropic juga menyimpan catatan hasil verifikasi, termasuk apakah pengguna sudah mencapai usia tertentu.
Menurut Thariq Shihpar, perwakilan Anthropic yang dikutip dalam unggahan di X, kebijakan ini hanya berlaku untuk "sebagian kecil pengguna" yang akunnya terdeteksi mencurigakan tapi belum diblokir permanen. Shihpar menegaskan bahwa perubahan ini adalah bagian dari proses banding, bukan terkait peluncuran fitur Fable atau Mythos.
Sayangnya, Anthropic enggan menyebutkan jumlah pasti pengguna yang terdampak. Perusahaan diketahui memiliki puluhan juta pengguna aktif bulanan.
Dalam dokumen kebijakan, Anthropic menyebut verifikasi diperlukan untuk pembuatan dan pengelolaan akun Claude, penegakan syarat dan ketentuan, serta pencegahan dan investigasi penipuan, penyalahgunaan, atau pelanggaran hukum. Langkah ini juga bisa menjadi cara perusahaan mematuhi tekanan regulasi dan hukum yang terus meningkat.
Hubungan Anthropic dengan pemerintahan Trump memang tengah memanas. Pekan lalu, pejabat Trump memaksa Anthropic menarik model keamanan siber terbarunya karena dugaan jailbreak. Sebelumnya, Departemen Pertahanan AS menetapkan Anthropic sebagai "risiko rantai pasok" sebagai buntut penolakan perusahaan mengizinkan teknologinya digunakan untuk pengawasan massal atau senjata otonom.
Anthropic menggandeng perusahaan asal San Francisco, Persona, sebagai mitra verifikasi identitas. Persona didanai oleh Founder's Fund, firma investasi milik Peter Thiel, yang juga merupakan investor Anthropic. Pilihan ini sempat menuai kritik pengguna karena koneksi politik Thiel.
Menariknya, Discord sempat memilih Persona untuk verifikasi usia awal tahun ini, tapi langsung mundur setelah pengguna ramai-ramai memprotes. Persona sendiri bisa menghadapi tuntutan pemerintah AS untuk menyerahkan data pengguna yang tersimpan di servernya.
Anthropic mengaku menentukan sendiri berapa lama Persona menyimpan dokumen identitas pengguna, namun juru bicara perusahaan tidak menyebutkan jadwal penghapusan data tersebut. Sebagai perbandingan, Roblox—klien Persona lainnya—menghapus gambar pengguna "segera" setelah diproses untuk meminimalkan risiko kebocoran.
Bagi pengguna Claude di Indonesia, kebijakan ini belum otomatis berdampak langsung. Namun, jika akun Anda terdeteksi aktivitas mencurigakan oleh sistem Anthropic, bersiaplah untuk diminta mengirimkan foto KTP atau paspor sebagai syarat banding. Pastikan dokumen yang diunggah masih berlaku dan waspadai potensi penyalahgunaan data biometrik Anda.