Rupiah Melemah ke Rp 16.250 per Dolar AS di Bank BUMN, Tertekan Data Tenaga Kerja AS

Penulis: Syahrul Karim  •  Jumat, 26 Juni 2026 | 09:52:01 WIB
Rupiah melemah ke Rp 16.250 per dolar AS di empat bank BUMN pada Jumat (26/6).

BENGKULU — Pelemahan rupiah terjadi di tengah menguatnya indeks dolar AS secara global. Sentimen pasar mata uang domestik tertekan oleh rilis data ketenagakerjaan AS yang lebih baik dari ekspektasi, memicu spekulasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Kurs di Empat Bank BUMN Kompak di Level yang Sama

Berdasarkan data yang dihimpun dari situs resmi masing-masing bank, kurs jual dolar AS pada Jumat (26/6) tercatat seragam. BCA, Bank Mandiri, BRI, dan BNI sama-sama memasang harga jual di Rp 16.250 per dolar AS. Sementara itu, kurs beli dolar AS di keempat bank tersebut bervariasi tipis, berkisar antara Rp 16.050 hingga Rp 16.100.

Keseragaman harga jual ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah bersifat sistemik dan tidak spesifik pada likuiditas salah satu bank. Pergerakan kurs di perbankan nasional biasanya mengacu pada kurs acuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.

Dua Faktor Eksternal yang Menekan Rupiah

Tekanan terhadap nilai tukar rupiah berasal dari dua sisi eksternal. Pertama, data ketenagakerjaan AS yang dirilis Kamis (25/6) malam menunjukkan klaim pengangguran mingguan turun lebih rendah dari perkiraan analis. Hal ini memperkuat ekspektasi bahwa The Fed belum akan memangkas suku bunga acuan dalam waktu dekat.

Kedua, indeks dolar AS (DXY) kembali merangkak naik ke level 105,8 pada perdagangan Jumat pagi. Penguatan dolar ini membuat hampir seluruh mata uang Asia, termasuk rupiah, berada dalam tekanan jual.

Fakta Singkat Pergerakan Kurs Hari Ini

  • Kurs jual dolar AS di BCA, Mandiri, BRI, dan BNI: Rp 16.250 per dolar AS.
  • Kurs beli dolar AS: Rp 16.050 - Rp 16.100 per dolar AS (bervariasi antar bank).
  • Kurs tengah BI (estimasi): Berada di kisaran Rp 16.150 per dolar AS.
  • Indeks DXY: Bergerak di level 105,8, menguat 0,2% sejak sesi sebelumnya.

Apa Artinya bagi Investor dan Pelaku Bisnis?

Bagi investor pasar modal, pelemahan rupiah menjadi sentimen negatif bagi saham-saham yang memiliki beban utang dolar AS atau yang bergantung pada impor bahan baku. Sektor perbankan dan properti biasanya menjadi yang paling tertekan dalam situasi seperti ini.

Sementara itu, bagi pelaku bisnis yang memiliki kewajiban pembayaran dalam dolar AS, pelemahan ini berarti beban biaya meningkat. Sebaliknya, eksportir komoditas seperti batu bara dan kelapa sawit justru diuntungkan karena pendapatan mereka dalam dolar AS menjadi lebih bernilai ketika dikonversi ke rupiah.

Pasar akan mencermati rilis data inflasi Indonesia pekan depan sebagai katalis domestik berikutnya. Jika inflasi tetap terkendali, Bank Indonesia diperkirakan tidak akan tergesa-gesa menaikkan suku bunga untuk menahan pelemahan rupiah.

Reporter: Syahrul Karim
Sumber: investor.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top