KEPAHIANG — Biaya membangun rumah, gedung, atau infrastruktur di Kabupaten Kepahiang masih lebih murah ketimbang di Surabaya, kota yang dijadikan acuan nasional. Indeks Biaya Konstruksi (IBK) atau Construction Cost Index (CCI) Kepahiang berada di angka 94,3 poin. Artinya, biaya konstruksi di daerah ini setara dengan 0,943 kali biaya di Surabaya.
Dari seluruh kabupaten/kota di Bengkulu, hanya tiga daerah yang indeksnya di bawah 95 poin. Paling murah adalah Bengkulu Utara dengan 92,95 poin, disusul Rejang Lebong 93,97 poin, dan Kepahiang di posisi ketiga. Sementara itu, Mukomuko menjadi yang termahal dengan 100,27 poin — satu-satunya daerah yang melampaui angka acuan Surabaya.
Berikut lima daerah dengan biaya konstruksi terendah di Bengkulu tahun 2025:
Di sisi lain, Mukomuko menjadi satu-satunya daerah di Bengkulu yang biaya konstruksinya lebih mahal dari Surabaya. Indeksnya mencapai 100,27 poin. Disusul Kaur 97,07 poin, dan Bengkulu City 96,13 poin. Seluma dan Bengkulu Tengah masing-masing 95,9 dan 95,78 poin.
BPS menjelaskan bahwa IBK adalah indeks harga yang mengukur tingkat biaya konstruksi relatif suatu wilayah terhadap kota acuan, yaitu Surabaya. Semakin tinggi nilai indeks, semakin mahal biaya konstruksi di daerah tersebut.
Dalam setahun terakhir, indeks Kepahiang naik 4,22 poin dari angka tahun sebelumnya. Lonjakan ini cukup signifikan jika dibandingkan kenaikan dalam lima tahun yang hanya 3,41 poin. Artinya, tekanan biaya material atau upah di Kepahiang mulai terasa lebih cepat belakangan ini.
Meski demikian, posisi Kepahiang sebagai daerah dengan biaya konstruksi rendah bisa menjadi daya tarik bagi investor atau warga yang berencana membangun. Harga material dan tenaga kerja yang lebih murah dibanding kota-kota lain di Bengkulu membuat nilai proyek lebih efisien.